7 Puisi Chairil Anwar, si 'Binatang Jalang' dan juga pelopor angkatan 45

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Rabu, 8 Februari 2023 | 20:19 WIB
Penyair Chairil Anwar
Penyair Chairil Anwar

Maret 1943

Baca Juga: Catatan aktivis dan 5 puisi Soe Hok Gie yang inspiratif

2. Senja di pelabuhan kecil

Kepada Sri Ajati

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempar, sedu penghabisan bisa terdekap

3. Hampa

Kepada sri

Sepi di luar. Sepi menekan mendesak.
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai ke puncak. Sepi memagut,
Tak satu kuasa melepas-renggut
Segala menanti. Menanti. Menanti.

Sepi.

Tambah ini menanti jadi mencekik…
Memberat-mencekung punda…
Sampai binasa segala. Belum apa-apa
Udara bertuba. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Dan menanti.

Baca Juga: Inilah 6 pilihan kata kata bijak dari Buya Hamka

4. Cintaku jauh di pulau

Cintaku jauh di pulau,
Gadis manis, sekarang iseng sendiri

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X