Baca Juga: Inilah nasihat penting Buya Hamka kepada kaum muda
6. Sajak tafsir
Kau bilang aku burung?
Jangan sekali-kali berkhianat
Kepada sungai, ladang, dan batu
Aku selembar daun terakhir
Yang mencoba bertahan di ranting
Yang membenci angin
Aku tidak suka membayangkan
Keindahan kelebat diriku
Yang memimpikan tanah
Tidak mempercayai janji api yang akan menerjemahkanku
Ke dalam bahasa abu
Tolong tafsirkan aku
Sebagai daun terakhir
Agar suara angin yang meninabobokan
Ranting itu padam
Tolong tafsirkan aku sebagai hasrat
Untuk bisa lebih lama bersamamu
Tolong ciptakan makna bagiku
Apa saja – aku selembar daun terakhir
Yang ingin menyaksikanmu bahagia
Ketika sore tiba.
7. Pada suatu hari nanti
Pada suatu hari nanti
Jasadku tak akan ada lagi
Tapi dalam bait-bait sajak ini
Kau tak akan kurelakan sendiri
Pada suatu hari nanti
Suaraku tak terdengar lagi
Tapi diantara larik-larik sajak ini
Kau akan tetap kusiasati.
Pada suatu hari nanti
Impianku pun tak dikenal lagi
Namun di sela-sela huruf sajak ini
Kau tak akan letih-letihnya kucari
8. Menjenguk wajah di kolam
Jangan kau ulang lagi
Menjenguk wajah
Yang merasa sia-sia
Yang putih yang pasi itu
Jangan sekali-kali membayangkan
Wajahmu bagai rembulan.
Baca Juga: Penyair Wiji Thukul dan 7 puisi perlawananya terhadap ketidakadilan
9. Kenangan
Ia meletakkan kenangannya
Dengan sangat hati-hati
Di laci meja dan menguncinya
Memasukkan anak kunci ke saku celana
Sebelum berangkat ke sebuah kota
Yang sudah sangat lama hapus
Dari peta yang pernah digambarnya
Pada suatu musim layang-layang
Tak didengarnya lagi
Suara air mulai mendidih
Di laci yang rapat terkunci.
Ia telah meletakkan hidupnya
Di antara tanda petik
10. Kita saksikan (1967)
Kita saksikan burung-burung lintas di udara
Kita saksikan awan-awan kecil di langit utara
Waktu itu cuaca pun senyap seketika
Sudah sejak lama, sejak lama kita tak mengenalnya
Di antara hari buruk dan dunia maya
Kita pun kembali mengenalnya
Kumandang kekal, percakapan tanpa kata-kata
Saat-saat yang lama hilang dalam igauan manusia. (Ghin Ninda Wr)***