“Indonesia harus mencegah keterjebakan dalam rivalitas kekuatan besar, sambil tetap berperan aktif menjaga stabilitas kawasan,” tegas Salim, merujuk pada prinsip politik luar negeri bebas dan aktif.
Baca Juga: Pegiat antikorupsi bedah dugaan pelanggaran tambang emas Tumpang Pitu Banyuwangi
Persaingan AS–China tekan sentralitas ASEAN
Direktur Riset ISI, Dr. Ian Montratama, menyoroti meningkatnya persaingan AS–China telah memberi tekanan serius terhadap sentralitas ASEAN, terutama dengan maraknya kerja sama minilateral.
Ia mengusulkan pendekatan armed neutrality melalui penguatan kapabilitas pertahanan nasional yang dibarengi strategi functional decoupling, kerja sama ekonomi dengan China dan kolaborasi pertahanan dengan AS tanpa keberpihakan politik.
“Menjadi musuh AS atau China sama-sama mahal. Tapi ketergantungan berlebihan juga berisiko,” ujarnya.
Indo-Pasifik jadi poros geopolitik global
Pandangan serupa disampaikan Dosen Hubungan Internasional President University, Dr. Jeanne Francois, yang menilai konsep Indo-Pasifik telah berkembang menjadi kerangka strategis berkelanjutan, bukan sekadar jargon kebijakan.
Baca Juga: Dua bulan pascabanjir, warga Kampung Jamat Aceh Tengah masih krisis air bersih
Ia merekomendasikan Indonesia memperkuat diplomasi jalur kedua, kolaborasi akademik, serta kerja sama keamanan non-tradisional seperti siber dan perlindungan infrastruktur kritis.
Diskusi ISI menyimpulkan bahwa meski kebijakan AS berubah, Indo-Pasifik tetap menjadi poros utama geopolitik dunia.
Tantangan Indonesia adalah menjaga sentralitas ASEAN, memperkuat pertahanan maritim, dan menavigasi persaingan kekuatan besar secara pragmatis dan berlandaskan kepentingan nasional.***