GENMILENIAL.ID - Dinamika perekonomian global yang terus diliputi ketidakpastian mendorong Indonesia untuk melakukan evaluasi mendasar terhadap arah strategi pembangunan nasional.
Ketergantungan pada pertumbuhan ekonomi semata tanpa penguatan sektor riil dinilai berisiko menempatkan Indonesia pada posisi rentan terhadap gejolak eksternal.
Pandangan tersebut disampaikan oleh Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mercu Buana sekaligus Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Agus Herta Sumarto.
Ia menilai bahwa Indonesia perlu berani melakukan penyesuaian strategi menuju tatanan ekonomi yang lebih mandiri dan berdaulat.
“Dalam dunia sepak bola, kemenangan sering kali ditentukan oleh keberanian mengubah strategi. Ketika pola permainan lama tidak lagi efektif, pelatih melakukan penyesuaian taktik,” ujar Agus dalam keterangan tertulisnya, Rabu 10 Juni 2026.
Ketergantungan global jadi titik lemah
Agus mengungkapkan bahwa selama beberapa dekade terakhir, Indonesia memang berhasil mencatat pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi.
Namun, keberhasilan tersebut dinilai belum sepenuhnya ditopang oleh fondasi sektor riil yang kuat.
Menurutnya, industrialisasi nasional masih bergantung pada bahan baku, mesin, dan teknologi impor.
Kondisi ini menyebabkan sektor industri domestik rentan terhadap fluktuasi nilai tukar rupiah dan gangguan rantai pasok global.
“Ketika nilai tukar melemah atau pasokan global terganggu, biaya produksi meningkat dan daya saing industri ikut tertekan,” jelasnya.
Selain itu, ketergantungan terhadap arus modal asing, khususnya dalam bentuk investasi portofolio jangka pendek, juga menjadi kerentanan tersendiri dalam struktur ekonomi nasional.