Oleh karena itu, fokus utama pembangunan seharusnya diarahkan pada peningkatan kapasitas produksi nasional.
“Nilai tukar hanyalah cermin. Yang menentukan adalah kemampuan bangsa dalam memproduksi kebutuhan strategisnya sendiri,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa negara yang memiliki fondasi produksi kuat cenderung lebih tahan terhadap guncangan global dibandingkan negara yang bergantung pada faktor eksternal.
Di tengah perubahan tatanan ekonomi global, Agus menilai Indonesia perlu memanfaatkan momentum untuk mempercepat penguatan kemandirian nasional sebagai dasar pembangunan jangka panjang.***
Artikel Terkait
Dollar terus melesat dan buat rupiah terperosok, begini cara BJ Habibie menguatkan rupiah usai krisis moneter
Prabowo ungkap kekayaan RI yang dirampas Belanda setara 31 triliun dolar AS, atau 140 kali APBN
Harris Turino angkat bicara soal rencana redenominasi rupiah, pastikan kawal momentum pelaksanaan kebijakan
Prabowo ultimatum pejabat: Stop permainkan anggaran, negara butuh setiap rupiah
DLH Bekasi pastikan cacahan di TPS liar merupakan uang rupiah asli, asal-usul masih ditelusuri
Investasi 60 juta dolar AS masuk Subang, tiga pabrik global dibangun di Smartpolitan
Rupiah melemah bukan sekadar dampak global, Chatib Basri ungkap biang kerok ada di kepercayaan fiskal