“Penulisan sejarah bukan sekadar menyusun cerita, tetapi melalui proses panjang, termasuk penyusunan naskah akademik dan uji publik,” jelasnya.
Baca Juga: DPRD Subang sahkan Raperda Desa dan LKPJ 2025, soroti kinerja pemda dan dasar hukum pilkades
Dorong identitas dan arah pembangunan Subang
Sementara itu, Wakil Bupati Subang Agus Masykur Rosyadi atau Kang Akur menilai penulisan ulang sejarah menjadi fondasi penting dalam membangun identitas daerah.
Ia menekankan bahwa sejarah yang kuat akan berdampak pada kualitas masyarakat yang lebih unggul dan kompetitif.
“Sejarah yang kuat akan melahirkan masyarakat yang unggul dan kompetitif, karena mereka memahami asal-usulnya dan arah masa depannya,” ujarnya.
Selain itu, penetapan Hari Jadi Kabupaten Subang juga menjadi salah satu poin krusial dalam penelitian ini. Ia berharap momentum tersebut tidak hanya bersifat seremonial, tetapi menjadi simbol persatuan masyarakat.
“Dengan memahami akar sejarah, kita tidak hanya membangun fisik, tetapi juga membangun karakter masyarakat yang adil, sejahtera, demokratis, dan religius,” lanjutnya.
Melalui FGD ini, BP4D bersama akademisi dan tokoh masyarakat berupaya merumuskan sejarah Subang yang lebih akurat, objektif, dan mampu menjadi pijakan pembangunan daerah ke depan.***