Respons militer dan perluasan konflik
Respon militer Iran terjadi cepat. Dalam hitungan jam, lebih dari 700 rudal dan drone diluncurkan ke pangkalan militer Amerika dan sekutunya di kawasan Teluk.
Baca Juga: Puasa dan efek komunikasi verbal menuju harmoni sosial
Serangan balasan tidak hanya menarget Israel, tetapi juga pangkalan-pangkalan militer AS di Qatar, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Kuwait. Negara-negara Teluk yang semula berperan sebagai mediator kini ikut terseret menjadi medan konflik aktif.
Perang atrisi dan prediksi konflik
Skenario paling realistis adalah perang atrisi panjang, di mana Iran terus membalas sesuai kemampuan yang tersisa, sementara AS menekan dengan kekuatan udara.
Sejarah modern menunjukkan rezim jarang tumbang hanya melalui serangan udara, seperti kasus Irak dan Libya.
Baca Juga: Bukber Polresta Banyuwangi jadi momentum perkuat kerja sama dengan media
Struktur kekuasaan Iran yang tersebar di Dewan Ahli, Korps Garda Revolusi, dan berbagai institusi lain diperkirakan akan menjaga stabilitas politik meski Khamenei gugur.
“Situasinya sangat kompleks. Iran tidak akan mudah goyah meski Khamenei gugur. Solidaritas nasional menguat, dan perang ini kemungkinan akan panjang kecuali ada mediator yang mampu menghentikan eskalasi,” tambah Yanuardi Syukur.***