Baca Juga: Dua bus TransJakarta adu banteng di Halte Cipulir, 24 penumpang luka, sopir diduga hilang kesadaran
“Hadiah dari pasien lagi, pagi dikasih buah naga, sore dibawain cemilan untuk buka puasa,” tuturnya.
Disebut tak lupa asal-usul
Unggahan Ardy menuai banyak komentar positif. Salah satu warganet menyebutnya sebagai sosok yang tidak melupakan asal-usul.
“Alhamdulillah kacang yang tidak lupa kulitnya ya kak,” tulis akun @suzy.hafiz.35.
Menanggapi respons tersebut, Ardy dengan rendah hati memperkenalkan dirinya sebagai masyarakat biasa yang berkesempatan menempuh pendidikan melalui beasiswa negara.
Baca Juga: Jadi tersangka asusila anak di Belu NTT, Piche Kota Bantah tuduhan: Saya tidak pernah lakukan itu
“Senang banget lihat respon positif kalian, salam kenal ya, saya spesialis penyakit dalam, terima kasih sudah membiayai pendidikan saya melalui LPDP,” ujarnya.
“Saat ini saya melayani di daerah Kelet, Jepara dan Tayu, Pati. Doakan semoga bisa jadi berkat di sana,” tutup Ardy.
Kisah Theofilus Ardy menjadi sorotan karena muncul di tengah polemik sebagian alumni LPDP yang menuai kontroversi di media sosial.
Banyak warganet menilai, pengabdian di daerah menjadi wujud nyata kontribusi penerima beasiswa negara kepada masyarakat.***