Meski berisiko tinggi, cara ini menjadi satu-satunya pilihan agar aktivitas warga tetap berjalan.
Baca Juga: Di balik lezatnya durian ketol Aceh, ada perjuangan warga lewati jembatan putus pascabanjir
Tak hanya untuk menyeberang, tali sling juga dimanfaatkan untuk mengangkut hasil bumi seperti durian, kopi, cabai, hingga beras agar dapat sampai ke pasar.
Tanpa akses ini, roda perekonomian warga dikhawatirkan akan terhenti sepenuhnya.
Sejumlah desa yang masih mengandalkan tali sling tersebut antara lain Desa Kekuyang, Desa Burlah, Desa Bintang Pepara, dan Desa Buge Ara.
Pemkab sampaikan kondisi ke pemerintah pusat
Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga, sebelumnya menyampaikan bahwa persoalan akses terputus di Kecamatan Ketol telah disampaikan kepada Presiden dan sejumlah menteri dalam rapat bersama pemerintah pusat.
Baca Juga: Bukan Rp150 juta, warga Aceh Timur buktikan sumur bor pascabanjir bisa dibuat Rp15 juta
Pemerintah daerah berharap adanya percepatan penanganan infrastruktur agar warga tidak terus-menerus berada dalam kondisi rawan dan terisolasi.
Persiapan pembangunan huntara bagi warga terdampak
Selain merusak akses jalan, banjir bandang dan longsor juga menghancurkan rumah warga. Hingga kini, masih terdapat 128 Kepala Keluarga (KK) yang bertahan di pengungsian.
Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah tengah mempersiapkan pembangunan hunian sementara (huntara) yang akan dibangun di tiga lokasi, yakni untuk warga Desa Serempah, Desa Burlah, dan Desa Bintang Pepara.
Huntara akan dibangun dalam bentuk blok, di mana satu blok terdiri dari lima unit hunian.
Baca Juga: Psikolog ungkap masalah keluarga banyak berawal dari faktor ekonomi
Pembangunan ini diharapkan menjadi solusi sementara bagi warga sembari menunggu pemulihan infrastruktur secara permanen.