Ketika air mulai menggenangi lantai dua, keputusan sulit pun diambil.
Sebanyak 18 orang yang berada di dalam rumah tersebut memilih naik ke atap demi menyelamatkan diri, meski hujan masih mengguyur tanpa henti.
Baca Juga: Kebahagiaan Natal 2025, Santa Claus hibur anak-anak pengungsi di Tapanuli Tengah
“Kami sebanyak 18 orang naik satu per satu ke atas atap dan hujan deras cuma bertutupkan terpal 1x2 meter,” ungkapnya.
Kondisi semakin memprihatinkan karena di antara mereka terdapat anak kecil dan bayi.
“Bayangin, anak bayi harus merasakan dinginnya hujan dari siang hingga ke pagi,” imbuhnya.
Video yang dibagikan juga memperlihatkan derasnya arus air berwarna cokelat yang mengalir tepat di bawah atap rumah, menambah ketegangan saat proses evakuasi mandiri dilakukan.
Baca Juga: Momen haru warga Gayo berlarian beri durian untuk TNI usai drop bantuan logistik
Gelap gulita, warga hanya bisa berteriak minta tolong
Usai banjir melanda, aliran listrik terputus total. Malam hari pun dilalui dalam kondisi gelap gulita, tanpa penerangan, tanpa kepastian kapan bantuan datang.
“Sampai malam hari pun kami cuma bisa teriak-teriak minta tolong supaya tim SAR datang, sahut-sahutan sama korban lain,” tulisnya.
Salah satu momen yang paling membekas baginya adalah saat sang anak tertidur di tengah hujan. “Anakku kehujanan tapi dia tidur sepanjang malam,” kenangnya.
Baca Juga: Tak hanya fisik, mental penyintas banjir bandang di Aceh Tamiang mulai lelah pascabencana
Data korban banjir Aceh Tamiang dan wilayah Sumatera
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan hingga 26 Desember 2025, jumlah korban meninggal dunia akibat banjir dan longsor di tiga provinsi di Sumatera mencapai 1.135 orang.