Meski demikian, air yang terkumpul di dalam galian tampak jauh lebih jernih dan bersih.
“Luar biasa, bersih dibandingkan dengan yang ada di sungai,” kata pria tersebut sambil memperlihatkan perbandingan kualitas air.
Baca Juga: Tak hanya apresiasi, Kang Rey tegaskan sanksi tegas ASN: 12 Orang sudah diberhentikan
Secara teknis, sistem ini memanfaatkan struktur tanah di pinggir sungai sebagai filter alami.
Air sungai yang meresap perlahan melewati lapisan pasir dan batuan sehingga kotoran tersaring secara mekanis sebelum air digunakan warga untuk kebutuhan sehari-hari.
“Ini sistem penyaringan alami, kira-kira dua meter dari bibir sungai,” imbuhnya.
Solusi darurat di tengah krisis air bersih
Aksi warga Desa Sekumur menjadi bukti bahwa kearifan lokal kerap menjadi solusi pertama ketika bencana melumpuhkan infrastruktur dasar.
Di saat distribusi air bersih belum sepenuhnya menjangkau wilayah terdampak, inisiatif ini membantu warga memenuhi kebutuhan vital secara mandiri.
Kondisi tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa akses air bersih merupakan kebutuhan mendesak bagi masyarakat terdampak banjir di Aceh Tamiang.
Kreativitas warga ini diharapkan dapat menginspirasi wilayah lain sekaligus mendorong perhatian lebih dari pihak terkait untuk mempercepat pemulihan fasilitas sanitasi pascabencana.***