Sindiran Endipat: Bantuan pemerintah vs udunan warga
Kontroversi bermula saat Endipat membandingkan donasi Rp10 miliar yang dihimpun Ferry Irwandi cs dengan bantuan pemerintah yang diklaim mencapai triliunan rupiah.
Pernyataan itu disampaikan saat Rapat Kerja Komisi I DPR dengan Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid.
"Orang yang cuma datang sekali seolah-olah paling bekerja di Aceh, padahal negara sudah hadir dari awal," ujar Endipat.
Ia juga menyebut bahwa pemerintah telah mendirikan ratusan posko, sementara pihak yang datang memberikan satu posko tidak seharusnya merasa yang paling bekerja.
Endipat bahkan meminta pemerintah meningkatkan publikasi agar tidak muncul anggapan bahwa negara tidak hadir.
Baca Juga: Pemulihan air bersih di Cibago, Perumda TRS ganti 300 meter jaringan pipa yang rusak
Menurutnya, informasi mengenai kerja pemerintah harus disampaikan secara masif agar publik tidak salah persepsi mengenai peran negara dalam penanganan bencana.
Solidaritas publik menguat
Di tengah polemik tersebut, dukungan terhadap Ferry Irwandi justru semakin kuat.
Ferry menyebut solidaritas masyarakat adalah kekuatan utama yang membuatnya memilih merespons polemik secara tenang.
Ia menegaskan bahwa donasi yang dikumpulkan bukan soal siapa yang bekerja lebih banyak, melainkan tentang gotong royong kemanusiaan di tengah musibah besar yang menimpa Sumatera.***