Ia pun menilai proses yang dialaminya sebagai cara Tuhan memurnikan dirinya.
“Allah mungkin sedang membakar saya dengan pain ini, mudah-mudahan saya jadi emas yang lebih murni,” ucapnya.
Kesepian di ruang isolasi dan Surat Ad-Duha yang menggetarkan hati
Ira juga menceritakan momen terberat saat harus menjalani ruang isolasi berukuran 3x3 meter tanpa jendela.
“Selama tiga hari sendirian. Mau bicara sama siapa? Hanya bisa bicara sama Tuhan,” ujarnya.
Dalam masa itu, ia membaca surat Ad-Duha yang mengingatkannya pada perjalanan hidupnya sebagai anak yatim.
“‘Aku tidak melupakanmu dan Aku tidak membencimu,’ itu yang paling mengena,” ucapnya.
Baca Juga: Masih terisolir, Kepala BNPB sebut Tapanuli Tengah dan Sibolga perlu perhatian serius
Ira mengenang bagaimana ayahnya meninggal saat ia berusia 7 tahun dan keluarganya hidup tanpa rumah hingga ia dewasa.
“Saya merasa durhaka sama Tuhan karena merasa ditinggalkan, padahal tidak,” tuturnya.
Turning point: Harapan, kesabaran, dan rehabilitasi Presiden
Menurut Ira, proses panjang itu menjadi titik baliknya dalam memaknai hope dan hopelessness.
“Katanya harus tetap berharap, tapi kok nggak datang-datang?” ujarnya.