Saut mengungkapkan bahwa KPK butuh pihak-pihak yang terus menekan, mengkritik, bahkan menghadapkan lembaga tersebut pada rasa tidak nyaman.
“Saya paling seneng sama ICW, karena ICW gebukin saya terus. Ketika ditantang, kita mikir. Itu sehat,” katanya.
Tanpa kritik, menurutnya, KPK hanya akan jadi lembaga yang berjalan tanpa arah.
IPK Indonesia naik setelah pelantikan Prabowo
Saut juga menyinggung Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia yang naik dari 34 menjadi 37 usai Presiden Prabowo dilantik.
Baginya, ini bukan pujian untuk KPK semata, melainkan sinyal bahwa publik memberi harapan baru pada pemerintahan.
“Begitu Prabowo dilantik, Januari IPK naik jadi 37. Ini sinyal publik memberi kepercayaan,” ujarnya.
Baca Juga: Kasus viral diduga bullying di SMP Tangsel: Polisi selidiki kekerasan hingga kondisi medis korban
ICW: Penurunan penindakan pada 2024 memang nyata
Aktivis ICW Almas Sjafrina menegaskan bahwa apresiasi publik wajar muncul, sebab 2024 merupakan tahun penindakan korupsi yang sangat lemah.
“Penurunannya signifikan. Bukan hanya KPK, Kepolisian dan Kejaksaan pun turun,” kata Almas.
Kini, menurutnya, Kejaksaan mulai agresif, sementara KPK 'baru bangun tidur, meski belum sepenuhnya bangun.'***