Baca Juga: Dua warga tewas tertimpa pohon di Ciater, BPBD Subang: Hujan deras dan angin kencang jadi pemicu
Sorotan pada bunga pinjaman dan pembengkakan biaya
Dalam diskusi yang sama, moderator Rizal Mustary memaparkan data pembengkakan proyek.
Biaya proyek yang semula diperkirakan 5,5 miliar dolar AS kini naik menjadi 7,22 miliar dolar AS atau sekitar Rp118 triliun.
Selain itu, bunga pinjaman dari China sebesar 2 persen per tahun disebut jauh lebih tinggi dibanding penawaran Jepang yang hanya 0,1 persen, atau 20 kali lipat lebih besar.
Hal tersebut menimbulkan dugaan bahwa lonjakan biaya bukan hanya karena faktor teknis pembangunan, tetapi juga akibat pembiayaan yang tidak efisien.
Desakan transparansi dan pemeriksaan kontraktor
Mahfud juga menyoroti pentingnya keterbukaan publik atas kontrak kerja sama proyek Whoosh. Ia mempertanyakan apakah DPR benar-benar memiliki akses penuh terhadap dokumen tersebut.
Sementara itu, pengamat kebijakan publik Agus Pambagio menilai langkah awal KPK bisa dimulai dari memeriksa pihak kontraktor yang tergabung dalam konsorsium proyek.
“Kalau KPK mau memeriksa, ya periksa kontraktornya. Kontraktornya kan berarti China dan lokal berdasarkan konsorsiumnya,” ujar Agus.
Seruan agar proyek Whoosh diaudit secara menyeluruh kini semakin menguat di ruang publik.
Banyak pihak berharap penegak hukum dapat memastikan transparansi agar proyek strategis nasional itu tidak ternodai praktik korupsi.***