GENMILENIAL.ID – Nasib nelayan tradisional di pesisir utara Subang kembali menjadi sorotan. Meski laut menjadi ladang utama penghidupan, kualitas hidup mereka tak banyak berubah dan jerat kemiskinan terus berulang lintas generasi.
Hal ini disampaikan oleh Mohammad Rizky, kader Komisariat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Universitas Mandiri Subang.
Menurutnya, kondisi tersebut bukan semata soal keterbatasan ekonomi rumah tangga, melainkan sudah menyangkut kemiskinan struktural.
Ketergantungan pada alat tradisional
Rizky menjelaskan, nelayan kecil di Subang masih bergantung pada sistem produksi tradisional dengan peralatan sederhana.
Minimnya akses terhadap teknologi modern membuat produktivitas rendah dan kalah bersaing dengan nelayan skala besar.
“Musim ikan yang tidak pasti memperparah keadaan. Hasil tangkapan sangat bergantung pada cuaca dan perubahan iklim,” jelasnya.
Jeratan tengkulak dan harga yang tidak stabil
Selain produktivitas, masalah harga ikan juga menjadi penyebab utama.
Ketika tangkapan melimpah, harga justru jatuh karena kurangnya fasilitas penyimpanan dan distribusi. Sebaliknya, ketika tangkapan menurun, biaya operasional tetap tinggi.
Baca Juga: Wartawan diduga dianiaya saat liput kasus keracunan MBG di Pasar Rebo, polisi diminta usut tuntas
“Nelayan akhirnya terpaksa meminjam dari tengkulak. Pola ini menciptakan ketergantungan jangka panjang yang membuat kemiskinan terus berlanjut,” kata Rizky.
Pendidikan anak nelayan masih rendah