GENMILENIAL.ID – Gelombang kasus keracunan massal akibat program Makanan Bergizi Gratis (MBG) kian memantik keprihatinan.
Hingga Kamis, 26 September 2025, jumlah korban di berbagai daerah sudah menembus lebih dari 5.000 siswa dan membuat sejumlah wilayah menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB).
Program yang sejatinya dirancang untuk meningkatkan gizi anak sekolah ini justru berbalik arah menimbulkan kekhawatiran baru, mulai dari dugaan distribusi makanan tak layak konsumsi hingga dampak kantin sekolah yang makin sepi karena tersisih oleh dapur massal MBG.
Baca Juga: KPK sebut Ustaz Khalid Basalamah saksi kunci korupsi kuota haji 2024, dalami aliran uang percepatan
Sorotan pakar IDAI: Kantin sekolah bisa jadi solusi
Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Piprim Basarah Yanuarso menilai dapur massal MBG rawan menimbulkan risiko jika standar keamanan pangan tidak dijalankan ketat.
Ia menegaskan, kantin sekolah justru bisa dihidupkan kembali untuk menjamin makanan segar dan aman dikonsumsi.
“Kalau idealnya, kenapa tidak menghidupkan kantin-kantin sekolah yang sudah ada. Praktis, makanannya bisa masih hangat pada saat siang hari,” ujar dr. Piprim dalam webinar IDAI, Kamis, 25 September 2025.
Ketua Unit Kerja Koordinasi Emergensi dan Terapi Intensif Anak IDAI, dr. Yogi Prawira mengingatkan standar internasional soal keamanan pangan jelas makanan matang tidak boleh dibiarkan lebih dari 4 jam di suhu ruang karena risiko bakteri meningkat drastis.
Investigasi BGN: Dapur bermasalah ditutup
Di sisi lain, Badan Gizi Nasional (BGN) mengakui adanya pelanggaran SOP di beberapa lokasi, termasuk Cipongkor, Bandung Barat.
Wakil Kepala BGN, Nanik S. Deyang, menegaskan pihaknya menutup dua dapur bermasalah yang terbukti menyiapkan makanan jauh sebelum batas waktu aman konsumsi.