Kemudian, diperkuat oleh media yang tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membuka ruang untuk interpretasi dan diskusi.
Pemerintah dan korporasi juga perlu bertransformasi dari model komunikasi satu arah menjadi dialog dua arah di mana masyarakat dianggap setara sebagai pemangku kepentingan.
Literasi bukan sekadar output, tetapi proses yang melibatkan waktu, empati, dan komitmen.
Pada akhirnya, persoalan energi bukan hanya soal teknologi, tetapi soal manusia. Dan manusia, untuk bisa mengelola energi dengan bijak, harus belajar membaca dengan utuh.
Baca Juga: Insentif tak cukup dongkrak penjualan, mobil listrik impor China masih kuasai pasar RI
Literasi yang kita butuhkan hari ini bukan hanya yang ada di buku, tapi yang tumbuh dari realitas sosial dan ekologis. Literasi yang tidak berhenti pada teks, tapi merambat ke tindakan.
Dunia ini tidak kekurangan energi yang kurang adalah kesadaran. Dan kesadaran hanya bisa lahir dari pembacaan yang jujur, mendalam, dan kritis.
Dalam setiap keputusan yang kita buat, dalam setiap energi yang kita ubah, selalu ada tanggung jawab yang ikut bergerak. Maka bacalah baik-baik, sebelum terlambat.
Doddi Ahmad Fauji, seorang penulis, penyair, jurnalis, dan praktisi tata kelola sampah