Kita hidup di tengah lautan data, namun sering kali gagal menyelam ke kedalaman maknanya. Poster 'go green' bisa menjadi tren gaya hidup, tetapi tidak selalu mencerminkan perubahan perilaku.
Kampanye tentang krisis iklim bisa menjadi viral, tapi tidak serta-merta membuat orang berhenti menggunakan plastik sekali pakai.
Literasi tidak hanya berarti tahu, tetapi juga mengerti dan menginternalisasi. Dalam konteks ini, literasi sejati berarti kemampuan membaca makna di balik gambar, suara, dan statistik dan dari sana, membentuk keputusan yang etis.
Masalahnya, dalam banyak konteks di Indonesia, narasi pembangunan dan transformasi energi terlalu sering dibungkus dengan jargon kesejahteraan rakyat.
Baca Juga: Presiden Iran tegaskan tak ingin produksi senjata nuklir: Kami hanya ingin pertahankan hak yang sah
Namun ketika ditelusuri lebih dalam, siapa sebenarnya yang menikmati hasil dari proyek-proyek besar seperti tambang, PLTU, atau reklamasi? Apakah masyarakat lokal yang tanahnya diambil? Atau korporasi besar yang menjalin kontrak jangka panjang?
Ketika literasi tidak dikembangkan, masyarakat tidak memiliki posisi tawar. Mereka tidak bisa membedakan antara partisipasi semu dan keterlibatan sejati.
Literasi, dalam konteks ini, bukan hanya alat untuk memahami, tetapi juga alat untuk menolak, bertanya, dan merancang ulang masa depan.
Ada satu prinsip dalam fisika yang sering terlupakan dalam praktik sosial: sudut datang sama dengan sudut pantul. Prinsip ini menyatakan bahwa setiap energi yang datang pada suatu permukaan akan dipantulkan kembali dalam arah yang sama.
Dalam ranah sosial, prinsip ini bisa dibaca sebagai pengingat: setiap kebijakan atau tindakan akan kembali kepada pelakunya, entah dalam bentuk kepercayaan, protes, atau bahkan kehancuran.
Jika kebijakan dibuat tanpa memahami konteks dan tanpa mengajak masyarakat membaca bersama dampaknya, maka dampak itu akan kembali sebagai krisis sosial dan ekologis.
Literasi bukan hanya mencegah bencana, tapi juga menciptakan tanggung jawab bersama.
Membangun masyarakat yang literat dalam konteks energi bukan hal mudah, tetapi bukan pula mustahil. Proses ini harus dimulai dari sistem pendidikan: memasukkan pemahaman tentang energi, lingkungan, dan hak warga negara sejak dini.
Artikel Terkait
Dukung energi terbarukan, PT Dahana serahkan 'Si Badai' ke pelaku UMKM Subang
Seminar Galuh Pakuan soroti energi terbarukan, siapkan SDM Subang hadapi industri kendaraan listrik
Nego dagang RI ke AS: Indonesia siap tambah porsi di sektor energi demi tekan tarif 32 persen
Galuh Pakuan buka pintu diplomasi budaya, Tiongkok siap investasi energi terbarukan di Subang
Bahlil pastikan Kementerian ESDM akan atur porsi investasi Danantara di proyek energi nasional
ESAI: Sastra Indonesia antara retrospeksi dan resolusi di era literasi digital
Peringati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2025, Pemkab Subang kampanyekan aksi nyata lawan polusi plastik