Kemudian, diperkuat oleh media yang tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membuka ruang untuk interpretasi dan diskusi.
Pemerintah dan korporasi juga perlu bertransformasi dari model komunikasi satu arah menjadi dialog dua arah di mana masyarakat dianggap setara sebagai pemangku kepentingan.
Literasi bukan sekadar output, tetapi proses yang melibatkan waktu, empati, dan komitmen.
Pada akhirnya, persoalan energi bukan hanya soal teknologi, tetapi soal manusia. Dan manusia, untuk bisa mengelola energi dengan bijak, harus belajar membaca dengan utuh.
Baca Juga: Insentif tak cukup dongkrak penjualan, mobil listrik impor China masih kuasai pasar RI
Literasi yang kita butuhkan hari ini bukan hanya yang ada di buku, tapi yang tumbuh dari realitas sosial dan ekologis. Literasi yang tidak berhenti pada teks, tapi merambat ke tindakan.
Dunia ini tidak kekurangan energi yang kurang adalah kesadaran. Dan kesadaran hanya bisa lahir dari pembacaan yang jujur, mendalam, dan kritis.
Dalam setiap keputusan yang kita buat, dalam setiap energi yang kita ubah, selalu ada tanggung jawab yang ikut bergerak. Maka bacalah baik-baik, sebelum terlambat.
Doddi Ahmad Fauji, seorang penulis, penyair, jurnalis, dan praktisi tata kelola sampah
Artikel Terkait
Dukung energi terbarukan, PT Dahana serahkan 'Si Badai' ke pelaku UMKM Subang
Seminar Galuh Pakuan soroti energi terbarukan, siapkan SDM Subang hadapi industri kendaraan listrik
Nego dagang RI ke AS: Indonesia siap tambah porsi di sektor energi demi tekan tarif 32 persen
Galuh Pakuan buka pintu diplomasi budaya, Tiongkok siap investasi energi terbarukan di Subang
Bahlil pastikan Kementerian ESDM akan atur porsi investasi Danantara di proyek energi nasional
ESAI: Sastra Indonesia antara retrospeksi dan resolusi di era literasi digital
Peringati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2025, Pemkab Subang kampanyekan aksi nyata lawan polusi plastik