ESAI: Transformasi energi gagal manakala literasi terabaikan?

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Kamis, 26 Juni 2025 | 14:11 WIB
Doddi Ahmad Fauji, seorang penulis, penyair, jurnalis, dan praktisi tata kelola sampah
Doddi Ahmad Fauji, seorang penulis, penyair, jurnalis, dan praktisi tata kelola sampah

Baca Juga: Kapolres Subang letakkan batu pertama rumah layak huni di Kalijati: Wujud nyata kepedulian Polri untuk masyarakat

Dalam konteks energi, kegagalan memahami literasi bisa berdampak lebih besar terutama bila manusia hendak mengeksplorasi alam sebagai sumber energi.

Kerusakan ekologi, konflik kepentingan, endemi penyakit, adalah contoh dampak buruk dalam konteks gagalnya memahami literasi energi.

Skala kesalahan pembacaan ini berlipat ganda ketika kita berbicara tentang pengelolaan energi dalam skala kebijakan. Ambil contoh proyek konversi sampah menjadi energi listrik.

Di atas kertas, program ini tampak menjanjikan: sampah yang menjadi persoalan kota bisa diubah menjadi sumber energi terbarukan.

Baca Juga: DPRD Subang tetapkan Perda Disabilitas, tegaskan komitmen perlindungan inklusif untuk warga berkebutuhan khusus

Namun, ketika kebijakan ini dijalankan tanpa pemahaman kontekstual misalnya tanpa melibatkan masyarakat lokal, tanpa transparansi proses, tanpa uji dampak ekologis yang menyeluruh konversi itu bisa menjadi bencana.

Bau busuk, pencemaran udara, peningkatan risiko kesehatan, dan konflik sosial adalah hal-hal yang kerap muncul.

Semua ini menunjukkan bahwa konversi energi tanpa literasi ekologis dan sosial akan berujung pada bentuk baru dari ketimpangan dan kerusakan.

Literasi seharusnya menjadi basis etika dalam kebijakan energi. Ketika masyarakat tidak diajak memahami cara kerja proyek energi, mereka diposisikan semata sebagai penonton atau korban, bukan sebagai subjek.

Baca Juga: Tiga jemaah haji Indonesia hilang di Makkah, PPIH intensifkan pencarian: Semuanya lansia dan mengidap demensia

Padahal, dalam prinsip energi berkelanjutan, partisipasi adalah elemen utama. Masyarakat perlu dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan, bukan hanya diberi informasi setelah proyek selesai.

Dengan demikian, literasi energi seharusnya dikembangkan sebagai kemampuan kritis yang memungkinkan publik menilai, bertanya, dan berpartisipasi dalam proses transformasi energi.

Ini termasuk memahami teknologi, mengenali dampak jangka panjang, serta membaca dinamika kekuasaan di balik proyek-proyek besar.

Di era digital saat ini, informasi tentang energi dan lingkungan tersebar luas dalam berbagai bentuk: infografis, video pendek, kampanye visual. Namun, penyebaran informasi tidak selalu sebanding dengan pemahaman.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X