GENMILENIAL.ID – Filipina resmi memasuki masa darurat energi nasional di tengah gejolak konflik Timur Tengah yang berdampak pada pasokan minyak global.
Keputusan tersebut diambil Presiden Ferdinand Marcos Jr. pada 24 Maret 2026, menyusul kondisi cadangan energi yang kian menipis.
Negara yang mengimpor sekitar 90 persen kebutuhan minyaknya itu kini menghadapi tekanan serius, terutama setelah penutupan Selat Hormuz oleh Iran.
Dampaknya mulai terasa langsung di kehidupan masyarakat, mulai dari lonjakan harga bahan bakar hingga terganggunya aktivitas transportasi.
Warga mulai jalan kaki ke tempat kerja
Di ibu kota Manila, fenomena baru mulai terlihat.
Banyak warga yang biasanya menggunakan kendaraan pribadi atau transportasi umum kini terpaksa berjalan kaki ke tempat kerja.
Kondisi ini terjadi akibat kelangkaan bahan bakar serta lonjakan harga yang signifikan.
Harga diesel dilaporkan melonjak hingga lebih dari 120 peso per liter atau sekitar Rp33 ribu, membuat biaya operasional kendaraan semakin tidak terjangkau.
Baca Juga: Viral pemotor dipalak Rp300 ribu di Tanah Abang, pelaku gunakan modus pelat luar
Situasi ini turut memperlihatkan betapa krisis energi telah berdampak langsung pada aktivitas harian masyarakat.
Cadangan BBM menipis, transportasi terpukul
Data dari Departemen Energi Filipina menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan.
Artikel Terkait
Wamen ESDM: BBM satu harga jadi simbol pemerataan energi di seluruh nusantara
Hari Amal Bakti ke-80 Kemenag, Kepala Kemenag Subang tegaskan kerukunan umat jadi energi bangsa
Garuda UNY Team kembali juara Shell Eco-Marathon 2026, bukti mahasiswa Indonesia unggul di teknologi hemat energi
Viral polisi di Kediri buka terapi energi alam gratis tanpa sentuhan, konsisten dilakukan sejak 8 tahun
China dan Rusia dalam perang Iran 2026: Dukungan terukur tanpa keterlibatan militer
Negara teluk ‘diam’ hadapi Iran, peneliti UI ungkap strategi bertahan di tengah ancaman
WFH usai lebaran 2026, antisipasi krisis energi global yang mulai menekan harga BBM