Berawal dari kegelisahan saat dampingi pramuka
Ony mengungkapkan, ketertarikannya pada terapi energi alam bermula dari pengalaman pribadinya saat mendampingi kegiatan Pramuka.
Kala itu, ia kerap menemui anak-anak yang mengalami kesurupan atau tiba-tiba jatuh sakit saat kegiatan lapangan.
“Awalnya saya hanya bingung bagaimana membantu anak-anak kalau ada yang kesurupan atau tiba-tiba drop saat kegiatan,” tutur Ony.
Ia mengakui tidak memiliki latar belakang medis maupun ilmu pengobatan alternatif. Namun, kegelisahan karena merasa tidak mampu membantu membuatnya tertarik mempelajari terapi energi alam.
Baca Juga: Jelang Ramadan, inflasi Subang terkendali di angka 2,92 persen
“Saya benar-benar tidak punya ilmu apa-apa,” tandasnya.
Konsisten membantu warga kurang mampu dan lansia
Seiring waktu, metode terapi tersebut mulai ia praktikkan kepada keluarga dan orang-orang terdekat.
Hingga akhirnya, saat aktif menjalankan tugas kepolisian dan melakukan sambang warga, Ony melihat langsung kondisi masyarakat yang membutuhkan bantuan kesehatan.
Ia kerap menjumpai warga lanjut usia dan masyarakat kurang mampu yang hidup seorang diri, menderita sakit, serta kesulitan mengakses layanan kesehatan formal.
Dari situlah, Ony semakin mantap membuka layanan terapi energi alam secara gratis sebagai bentuk kepedulian sosial.
Aksi tersebut pun menuai beragam respons dari warganet.
Sebagian menilai langkah Ony sebagai bentuk empati dan pengabdian kepada masyarakat, meski metode terapi yang digunakan terbilang tidak lazim.***
Artikel Terkait
Polisi bongkar korupsi dana bantuan keuangan desa di Subang, mantan Kades pakai uang negara untuk bayar utang pribadi
Dihakimi massa saat diduga curanmor di Subang, satu tewas dan satu kritis, polisi tegaskan warga tak boleh main hakim sendiri
Ngaku Resmob Polda Jabar dan todong softgun, komplotan pemeras di Subang akhirnya dibekuk polisi
Viral pelajar di Lampung Tengah lewati banjir dan jembatan kayu lapuk demi berangkat sekolah
Viral rekaman CCTV kecelakaan pemotor wanita di Bandung, tewas terlindas truk kontainer di Jalan Dayeuhkolot
Sempat viral di medsos, cerita warga Aceh Tamiang bertahan di SPBU saat banjir bandang: Enam hari tanpa makan
Viral penilaian ahli saraf: Gen Z disebut lebih rendah secara kognitif dibanding Milenial, pola belajar digital jadi sorotan