Analogi tersebut digunakan untuk menggambarkan kondisi sebagian masyarakat di pelosok daerah yang masih mengalami kelaparan, sehingga membutuhkan bantuan langsung sebelum bisa diberdayakan secara ekonomi.
Soroti warga pelosok yang masih kelaparan
Rachmat juga menyinggung fakta di lapangan bahwa hingga kini masih banyak warga, termasuk anak-anak, yang hidup dalam kondisi memprihatinkan.
“Coba lihat saudara-saudara kita di pelosok desa, mereka lapar, mereka kelaparan,” katanya.
Ia bahkan mengungkapkan pengalamannya saat mendampingi Presiden meresmikan sekolah rakyat.
“Ketika saya mendampingi Pak Presiden, ada anak-anak SMP dan SMA yang belum bisa baca tulis. Itu masih banyak,” ungkapnya.
Baca Juga: Banjir meluas di Pantura Subang, Kang Rey pilih ngantor di lokasi dan desak normalisasi sungai
MBG disebut bagian dari infrastruktur sosial
Lebih lanjut, Rachmat menegaskan bahwa program Makan Bergizi Gratis bukan sekadar bantuan konsumsi, melainkan bagian dari pembangunan infrastruktur sosial.
Menurutnya, pembangunan tidak boleh hanya berfokus pada jalan, jembatan, atau fisik semata, tetapi juga pada kualitas sumber daya manusia.
“Makan bergizi adalah bagian dari pembangunan yang harus diselesaikan,” ujarnya.
“Kalau bicara infrastruktur, jangan hanya fisik. Infrastruktur sosial juga harus dibangun agar persoalan dasar bangsa ini bisa selesai,” pungkasnya.***
Artikel Terkait
Bos BGN hingga Wapres Gibran, klaim MBG sebagai program investasi SDM yang strategis
Wakil Kepala BGN tegaskan SPPG dilarang PHK relawan meski penerima manfaat MBG berkurang
Mobil MBG seruduk siswa SDN 01 Kalibaru Cilincing, 18 korban dilarikan ke RS saat kegiatan literasi pagi
Viral Kepsek SDN 3 Sindang Sari Lampung Utara protes menu MBG busuk: Ini penghinaan buat anak sekolah
Ratusan miliar untuk seragam hingga alat makan MBG, ICW soroti tata kelola Badan Gizi Nasional
ICW soroti pengadaan MBG, pembelian sendok bebek 2025 disebut habiskan Rp4 miliar
Viral keluhan guru honorer soal gaji, bandingkan penghasilan dengan sopir MBG: Miris hati saya