Seorang guru yang terekam dalam video menyampaikan harapan agar pemerintah daerah segera turun tangan memperbaiki akses jalan.
Baca Juga: 141 Warga mengungsi di bawah Flyover Pamanukan, banjir Sungai Cigadung kembali rendam Desa Mulyasari
“Kami berharap pemerintah segera menangani jalan ini supaya anak-anak bisa kembali sekolah dengan aman,” ujarnya.
Kondisi ini menjadi perhatian serius karena akses pendidikan terancam terganggu dalam jangka panjang jika tidak segera ditangani.
Jembatan darurat dibangun, Huntara masih dikebut
Sementara itu, pemerintah bersama aparat gabungan telah membangun jembatan darurat yang menghubungkan Desa Riseh dan Dusun Cot Calang.
Jembatan ini dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat dan dibangun oleh personel BKO Brimob Polda Kalimantan Timur bersama Polres Lhokseumawe.
Baca Juga: Kemenkeu bantah hoaks suntikan dana Rp200 triliun ke Bank Himbara
Meski demikian, pembangunan hunian sementara (huntara) bagi warga terdampak banjir masih menjadi pekerjaan rumah.
Pemkab Aceh Utara menargetkan huntara selesai sebelum pertengahan Februari 2026, menjelang bulan Ramadan.
Berdasarkan data sementara, bencana banjir bandang dan longsor yang terjadi pada November 2025 lalu mengakibatkan 345 orang meninggal dunia, 6 orang masih hilang, dan lebih dari 33 ribu warga mengungsi di 12 kecamatan di Aceh Utara.***
Artikel Terkait
Terobos banjir demi mengajar, aksi guru matematika SMK Serang ini tuai salut warganet
Sekolah rusak diterjang banjir bandang, bocah asal Agam Sumbar ini harap bisa belajar normal kembali
Banjir rendam rumah panggung KDM di Karawang, air capai 3 meter hingga sekolah ikut terendam
55 Hari pascabanjir, rumah warga Pidie Jaya masih tertimbun lumpur: Sebulan lagi Ramadan
Meski jadi korban banjir, warga Pidie Jaya ini tetap masak di dapur umum: Kami iba kalau nggak ada yang masak
Petani Aceh Utara tetap menanam padi meski lumpur setinggi pinggang
Banjir bandang terjang Desa Penakir Pemalang, rumah dan jembatan rusak