“Untuk di kecamatan kurang lebih 400 orang dan mungkin untuk di SD sekitar 600 atau lebih. Untuk yang masih di posko-posko yang kami anggap aman ada 4 RT dan 1 RT di madrasah,” kata Agus, Kepala Desa Penakir, di lokasi kejadian, Minggu, 25 Januari 2026.
Agus menambahkan bahwa pengungsi membutuhkan bantuan logistik, obat-obatan, alas tidur, dan selimut, termasuk kebutuhan khusus untuk balita dan bayi.
Baca Juga: ESAI: Titikan di Galeri Indigo, catatan tentang seni rupa, anak, dan kemerdekaan berkarya
Korban jiwa dan imbauan keamanan
Sampai Sabtu, 24 Januari 2026, tercatat satu warga meninggal dunia, seorang laki-laki dari Dusun Wanasari, Desa Penakir.
Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Pemalang mengimbau warga untuk mengurangi aktivitas di sepanjang aliran sungai.
Hujan dengan intensitas tinggi di hulu Gunung Slamet masih berpotensi menimbulkan banjir bandang susulan, sehingga kewaspadaan tetap harus dijaga.***
Artikel Terkait
Lhok Pungki, Dusun di Aceh Utara yang kini berubah jadi sungai pascabanjir bandang
Tak ada pilihan selain makam, warga Aceh Tamiang bertahan di kuburan Tionghoa pascabanjir
Banjir rendam rumah panggung KDM di Karawang, air capai 3 meter hingga sekolah ikut terendam
Hampir dua bulan pascabanjir, Aceh Tamiang kini berselimut debu dan terancam ISPA
55 Hari pascabanjir, rumah warga Pidie Jaya masih tertimbun lumpur: Sebulan lagi Ramadan
Cerita warga Meureudu Pidie Jaya saat banjir datang: Buka pintu, air langsung masuk
Petani Aceh Utara tetap menanam padi meski lumpur setinggi pinggang