“Air aja kami di sini nggak dikasih galonnya. Sementara kami di sini ada empat Kepala Keluarga,” ucap warga lainnya.
Kondisi ini membuat warga harus bertahan dengan keterbatasan air minum, meski berada di kawasan kota yang dianggap sudah pulih lebih cepat dibanding wilayah pelosok.
Toko belum buka, tak bisa beli air
Tak hanya mengandalkan bantuan, warga juga mengaku kesulitan membeli air minum secara mandiri. Pasalnya, sejumlah toko dan kedai di sekitar lokasi belum kembali beroperasi pascabanjir.
“Kami air yang krisis. Mau beli belum ada yang buka kedai,” ujar seorang warga.
Ia juga membenarkan bahwa sebelumnya banyak warga atau relawan yang melintas dan membagikan air minum secara langsung. Namun, kondisi tersebut kini sudah jarang terjadi.
“Dulu banyak orang-orang motoran dikasih, sekarang udah kurang bantuan airnya. Sekarang nggak ada lagi,” imbuhnya.
Baca Juga: Insiden istri Fiersa Besari ditabrak di Stasiun Gambir, pelaku tawarkan damai Rp200 ribu
Bantuan banyak dialihkan ke pelosok
Menurut pengakuan warga, distribusi bantuan air minum saat ini lebih banyak difokuskan ke wilayah pelosok dan daerah yang masih terisolasi akibat banjir.
Sementara itu, kawasan kota mulai jarang mendapatkan pasokan bantuan.
Warga berharap perhatian terhadap kebutuhan air minum tidak hanya terpusat di daerah terpencil, tetapi juga menjangkau masyarakat di wilayah perkotaan yang masih terdampak.
Air minum menjadi kebutuhan paling mendasar bagi warga pascabencana. Tanpa suplai yang memadai, kondisi kesehatan dan pemulihan masyarakat dikhawatirkan akan semakin terhambat.***
Artikel Terkait
Cerita bocah Aceh Tamiang saat banjir bandang terjang rumahnya: Air datang usai subuh hingga momen kelaparan
Kayu gelondongan jadi jembatan relawan salurkan bantuan untuk korban banjir Aceh
Bukan Rp150 juta, warga Aceh Timur buktikan sumur bor pascabanjir bisa dibuat Rp15 juta
Di balik lezatnya durian ketol Aceh, ada perjuangan warga lewati jembatan putus pascabanjir
Tanpa seragam pascabanjir, anak-anak Aceh Tamiang tetap semangat jalani hari pertama sekolah
Tali sling jadi akses hidup warga Ketol Aceh Tengah, sejumlah desa masih terisolir 40 hari pascabanjir
'Saya mau pulang ke mana?' Pilu warga Pidie Jaya usai rumah hancur diterjang banjir dan bantuan hilang