Ia mencoba mengikhlaskan musibah yang menimpanya dengan keyakinan bahwa semua adalah kehendak Tuhan, meski rasa kehilangan begitu berat dirasakan.
“Habis duitnya, sebenarnya kepingin sekali umroh tapi Allah belum memberkahi,” lanjutnya pelan.
Baca Juga: Kearifan lokal warga Desa Sekumur: Saring air sungai jadi bersih pascabanjir Aceh Tamiang
Kehilangan yang lebih dari sekadar materi
Bagi nenek ini, kehilangan rumah dan harta benda memang menyakitkan. Namun, pupusnya harapan untuk bisa beribadah ke Tanah Suci menjadi luka yang jauh lebih dalam.
“Berat kali rasanya,” ucapnya singkat, kalimat sederhana yang menggambarkan kepedihan luar biasa.
Kisah nenek di Aceh Tamiang ini menjadi potret nyata bahwa banjir bandang bukan hanya menghanyutkan materi, tetapi juga impian, harapan, dan doa-doa panjang yang telah dipanjatkan selama bertahun-tahun.***
Artikel Terkait
Modal lampu mobil, warga Desa Pematang Durian Aceh Tamiang gotong royong buka akses jembatan tertimbun lumpur
Bermalam di hutan hingga makan ubi mentah, kisah pilu ibu di Tapanuli Tengah bertahan hidup saat longsor menerjang
Raffi Ahmad hingga Iko Uwais donasikan hasil tiket film Timur untuk korban bencana di Sumatera
Kepolosan anak korban banjir Aceh Tamiang: Rumah hancur tinggal seng, tapi tetap mengaku sehat
Hanya minta selimut dan pampers adik, bocah Aceh Tamiang ini ketuk hati relawan
Cerita ayah di Garoga Tapsel, anaknya yang masih 2 tahun terseret banjir saat sedang menyusu ibunya
Krisis air bersih, warga Desa Sekumur Aceh Tamiang terpaksa gunakan air banjir untuk memasak