Selama banjir melanda hingga air mulai surut, warga mengaku bertahan hidup dengan persediaan seadanya tanpa pendampingan dari pihak luar.
“Kami belum ada relawan yang datang ke kampung kami, sama sekali,” lanjut perempuan tersebut dengan nada lirih.
Baca Juga: Pakar nilai peran Seskab Teddy penting redam persepsi negatif penanganan bencana Sumatera
Kondisi semakin berat karena keterbatasan penerangan. Desa Pulau Tiga telah lama berada dalam kegelapan akibat padamnya listrik, bahkan sebelum bencana banjir bandang terjadi.
“Dari sebelum banjir memang sudah mati lampu,” ungkapnya.
Situasi tersebut membuat warga merasa terputus dari dunia luar, tanpa informasi, tanpa bantuan, dan tanpa kepastian kapan pertolongan akan datang.
Lebih dari Sekadar Bantuan
Kehadiran relawan di Pulau Tiga menjadi titik balik penting bagi warga setempat.
Baca Juga: ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik
Meski infrastruktur masih lumpuh dan proses pemulihan baru dimulai, rasa syukur dan harapan kembali tumbuh.
Bagi warga, kedatangan relawan bukan hanya membawa bantuan fisik, tetapi juga pengakuan atas penderitaan yang mereka alami selama ini.
Sentuhan kemanusiaan itulah yang menguatkan mereka untuk terus bertahan.
Kisah Pulau Tiga menjadi pengingat bahwa dalam setiap bencana, wilayah-wilayah terisolasi sering kali menjadi yang paling senyap penderitaannya. Dan ketika relawan akhirnya datang, air mata yang tumpah adalah bahasa syukur yang paling jujur.
Artikel Terkait
Hanya minta selimut dan pampers adik, bocah Aceh Tamiang ini ketuk hati relawan
Cerita ayah di Garoga Tapsel, anaknya yang masih 2 tahun terseret banjir saat sedang menyusu ibunya
Krisis air bersih, warga Desa Sekumur Aceh Tamiang terpaksa gunakan air banjir untuk memasak
Hanya minta sajadah untuk mama, bocah korban banjir Aceh Tamiang ini juga sedih lihat sekolahnya hancur
Kepolosan dua bocah di Tapanuli Tengah ceritakan rumah biru mereka hancur diterjang banjir
Belajar dari Swiss dan Jepang, Ferry Irwandi soroti bahaya gelondongan kayu pascabanjir Sumatera
Air terus naik di tengah malam, warga Bona Lumban Tapteng memohon evakuasi: Kami tidak tahu pergi ke mana