Kondisi ini diperparah dengan:
- Aktifnya gelombang atmosfer dan fenomena MJO,
- Suhu muka laut hangat 29–30°C,
- kelembapan udara tinggi di seluruh lapisan atmosfer,
- Dan kondisi IOD negatif yang masih berlangsung hingga Desember 2025.
“Faktor-faktor tersebut menambah suplai uap air di Sumatera Utara sehingga memicu pembentukan awan hujan,” jelas Hendro.
Deretan wilayah yang berpotensi hujan lebat
BMKG memetakan sejumlah daerah yang berpotensi mengalami hujan lebat hingga sangat lebat akibat dampak bibit siklon tropis 91S.
Baca Juga: BAZNAS Subang incar pengumpulan ZIS lebih luas, perkuat transparansi dan kerja sama media
Wilayah dengan potensi hujan lebat
- Dairi, Pakpak Bharat, Humbang Hasundutan
- Nias Selatan, Nias Utara, Nias Barat, dan Kota Gunungsitoli
- Tapanuli Tengah, Kota Sibolga, Tapanuli Selatan
Wilayah berpotensi intensitas lebat meluas
- Kota Padang Sidempuan, Tapanuli Utara
- Mandailing Natal, Padang Lawas, Padang Lawas Utara
- Langkat, Kota Medan, Kota Binjai
- Deli Serdang, Karo, Simalungun, Samosir
- Serdang Bedagai, Kota Pematang Siantar, Labuhanbatu Selatan
BMKG mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah tetap waspada terhadap potensi bencana susulan, terutama di wilayah yang sebelumnya terdampak banjir bandang.***
Artikel Terkait
Menteri LH Hanif Faisol tindak tegas dugaan kayu gelondongan perparah banjir Sumatera
Harga kebutuhan pokok melonjak saat banjir, Mualem minta Mendagri tindak pedagang nakal
Gubernur Aceh buka pintu bantuan internasional, soroti Tim China hingga imbau warga tak ambil kesempatan
Anggota DPRD Subang H. Anharudin: Bencana Sumatera cermin kerusakan lingkungan
DPR usul bentuk kementerian khusus bencana, soroti skala musibah nasional yang kian meningkat
Bibit Siklon Tropis 93W dan 91S muncul bersamaan, BMKG peringatkan potensi hujan lebat dan gelombang tinggi
Jubir PKS desak pemerintah untuk segera menetapkan banjir-longsor Sumatera sebagai bencana nasional