GENMILENIAL.ID — Pemerintah pusat mengingatkan pemerintah daerah agar tidak lagi menjadikan curah hujan ekstrem sebagai alasan utama setiap terjadi bencana hidrometeorologi.
Hal itu menjadi sorotan dalam rapat koordinasi kesiapan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 yang digelar di Kantor Kemendagri, Jakarta, usai rentetan banjir bandang dan longsor di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh.
BNPB kritik daerah yang selalu menyalahkan curah hujan
Deputi Sistem dan Strategi BNPB Raditya Jati menegaskan bahwa kepala daerah harus memahami risiko bencana di wilayahnya.
Ia menilai banyak pemda tidak siap menghadapi potensi bencana karena tata ruang yang buruk dan minimnya mitigasi.
Raditya menekankan bahwa tingginya curah hujan sering dijadikan kambing hitam, padahal faktor kerentanan struktural jauh lebih berpengaruh.
“Ini yang sering terjadi, kepala daerah menyalahkan curah hujan padahal ada permasalahan seperti tata ruang,” ujarnya dalam rapat.
Menurutnya, banyak daerah masih menunggu pusat menetapkan status darurat atau mengirim dukungan, padahal mitigasi harus dilakukan jauh sebelum bencana terjadi.
“Yang paling penting kepala daerah paham, jangan menunggu kejadian bencana baru meminta bantuan pusat,” tegasnya.
Tata ruang buruk bikin kerentanan meningkat
Raditya juga menyinggung pelanggaran tata ruang yang terjadi di berbagai daerah, termasuk pemukiman di sempadan sungai.
“Banyak rumah yang melanggar sempadan sungai di wilayah Jabodetabekpunjur, dan kami punya datanya via satelit,” ungkapnya.
Artikel Terkait
4 Kampung hilang tersapu banjir bandang Aceh, akses darat putus total: Jembatan Bailey dikebut demi jangkau korban
Prabowo tinjau lokasi banjir–longsor di Sumut setelah sepekan, pastikan akses listrik dan logistik segera pulih
Mendagri Tito Karnavian: Penjarahan di Sumatera karena warga lapar, pemerintah sudah all out tangani bencana
Basarnas catat 447 korban meninggal akibat bencana Sumatera, ratusan hilang dan korban luka belum tertangani
Kepala BNPB akui salah nilai bencana di Tapanuli Selatan, minta penanganan dipercepat dan soroti pengungsi terlalu lama di tenda
Asrama pesantren di Bireuen ambruk usai banjir bandang, kerugian ditaksir Rp6 miliar, ratusan santri mengungsi
Gubernur Dedi Mulyadi siapkan moratorium penebangan hutan, ingatkan pentingnya menjaga bumi