Rencana transisi akan berlangsung sampai PA dinilai siap mengambil alih Gaza. Tapi, tanpa tolok ukur jelas. Netanyahu bahkan menolak PA kembali berkuasa di Gaza.
“Gaza akan dikelola bukan oleh Hamas, bukan pula oleh PA,” tegasnya.
3. Pasukan internasional
Trump mendorong pembentukan Pasukan Stabilisasi Internasional di Gaza. Namun, belum jelas negara mana yang bersedia mengirim pasukan, termasuk mandatnya, dan sejauh mana keberanian mereka menghadapi Israel jika terjadi pelanggaran.
4. Jadwal mundurnya Israel
Penarikan Israel disebut dilakukan bertahap dengan syarat keamanan dan demiliterisasi. Namun, tanpa jadwal konkret.
Israel bahkan ingin tetap menjaga perimeter keamanan hingga Gaza dianggap bebas ancaman.
Baca Juga: Jalan panjang nelayan tradisional Subang dalam jerat kemiskinan struktural
5. Masa depan negara Palestina
Trump sempat membuka kemungkinan pembicaraan soal kenegaraan jika rekonstruksi Gaza berhasil dan PA melakukan reformasi. Namun, syarat itu dinilai terlalu samar dan berpotensi memperpanjang status quo.
Dengan sederet ketidakjelasan itu, proposal Trump-Netanyahu dipandang sebagian pihak membawa harapan baru, namun bagi yang lain hanya menjadi ilusi politik yang menunda kejelasan nasib Palestina.***
Artikel Terkait
Trump dan Netanyahu singgung relokasi warga Gaza, komunitas internasional khawatirkan krisis kemanusiaan baru
Kesepakatan dagang Trump–Prabowo dikritik, warga AS: Konsumen Amerika yang bayar 19 persen tarif!
Trump kesal, ini daftar 11 negara anggota BRICS yang kini dinilai jadi batu sandungan ekonomi AS
Mengenal 'The Beast', mobil kepresidenan AS yang ditumpangi Trump dan Putin di Alaska
Trump ancam tarif 200 persen ke China, magnet tanah jarang jadi senjata baru perang dagang 2025
Prabowo gegerkan sidang PBB: Delapan entakan meja, riuh tepuk tangan delegasi, hingga kelakar Trump
Sabotase di PBB? Trump alami eskalator mati, audio tak terdengar saat pidato