Baca Juga: APINDO Subang bidik sinergi UMKM dan industrialisasi, siapkan Balai Latihan Kerja untuk tenaga lokal
Rekomendasi untuk Perbaikan
Lebih lanjut, dr. Tan memberikan sejumlah rekomendasi agar MBG tidak berakhir menjadi proyek formalitas.
- Tidak terpaku pada SPPG. Di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, terluar), kata Tan, lebih realistis mengoptimalkan kantin sekolah daripada membangun dapur miliaran.
- Gandeng Dinas Kesehatan. Pelaksanaan MBG dinilai perlu melibatkan puskesmas untuk supervisi dan evaluasi, bukan hanya BPOM.
- Transparansi anggaran. Ia mendesak keterbukaan publik soal dapur, penyedia, dan pengelolaan dana MBG.
- Edukasi gizi. Tan menegaskan MBG harus diiringi pendidikan makan sehat agar anak-anak tak lagi membuang sayur.
Baca Juga: Muskab ke-7 APINDO Subang: Dorong sinergi industri dan UMKM di era industrialisasi
Menurutnya, tanpa perbaikan mendasar, program prioritas pemerintah itu hanya akan melahirkan masalah baru.
“Buktikan ada edukasi, jangan sekadar membagikan makanan,” tegasnya.
Kritik ini muncul di tengah maraknya kasus keracunan MBG di berbagai daerah, termasuk Jawa Barat, Yogyakarta, hingga NTB. Situasi tersebut membuat desakan reformasi program semakin kuat.***
Artikel Terkait
MBG jadi program prioritas tapi serapan minim, Menkeu Purbaya desak BGN rutin lapor ke publik
BGN bantah isu 5.000 dapur MBG fiktif, jelaskan proses verifikasi dan roll back usulan SPPG
Kasus keracunan siswa merebak di 6 daerah, alarm serius standar kebersihan program MBG
Usulan DPR ganti MBG jadi uang tunai, istana tegaskan skema makanan siap santap tetap terbaik
352 Siswa keracunan massal di Bandung Barat, Dedi Mulyadi janji evaluasi program MBG
Kasus keracunan MBG jadi KLB: BGN konsisten salahkan SPPG, Waka baru bentuk Tim Investigasi Khusus
11 Siswa SD di Subang diduga keracunan usai santap MBG, Dinkes kirim sampel ke laboratorium