Bupati Gunungkidul: Penerima bansos yang masih beli rokok dan skincare perlu dievaluasi

photo author
Mustafa Kamal, Genmilenial
- Kamis, 24 Juli 2025 | 02:49 WIB
Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih ingatkan penerima bansos untuk hanya menggunakan uang bagi kebutuhan pokok (Instagram/endah_subekti_k)
Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih ingatkan penerima bansos untuk hanya menggunakan uang bagi kebutuhan pokok (Instagram/endah_subekti_k)

GENMILENIAL.ID – Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih menegaskan agar penyaluran bantuan sosial (bansos) lebih diperketat dan tepat sasaran.

Ia meminta agar penerima bansos benar-benar menggunakan bantuan tersebut untuk memenuhi kebutuhan pokok, bukan untuk keperluan konsumtif seperti rokok dan produk perawatan kulit.

Hal tersebut disampaikan Endah saat peluncuran bantuan beras bagi warga kurang mampu di Balai Kelurahan Kepek, Kapanewon Saptosari, Selasa, 22 Juli 2025.

“Kami sampaikan kepada warga masyarakat khususnya penerima bansos dari pemerintah bahwa kebutuhan pokok manusia adalah sandang, pangan, papan,” ujarnya.

Baca Juga: Lesti Kejora curhat dampak dilaporkan karena hak cipta: Ingin ada solusi segera

Menurutnya, selama kebutuhan pangan masih disokong oleh pemerintah, masyarakat harus mendisiplinkan diri dalam mengelola keuangan.

Ia bahkan meminta perangkat daerah untuk mempertimbangkan ulang kelayakan penerima bansos yang masih membeli rokok dan skincare.

“Bagi penerima bansos yang masih menggunakan uangnya di luar kebutuhan pokok, misalnya maaf masih merokok, membeli skincare dan sebagainya, ya kami mohon Pak Lurah mempertimbangkan kembali,” tegasnya.

Ia menyarankan agar kelayakan penerima bansos dibahas dalam forum musyawarah dusun atau kelurahan.

Baca Juga: Kemlu tanggapi permintaan Satria Arta, eks marinir yang kini jadi tentara Rusia, untuk kembali jadi WNI

Jika ditemukan adanya perilaku konsumtif, penerima tersebut bisa saja dianggap masih mampu.

Lebih lanjut, Endah menekankan bahwa keluar dari garis kemiskinan tidak hanya bergantung pada bantuan pemerintah, melainkan juga kesadaran dan keinginan warga untuk berubah.

“Edukasi untuk kita mau prihatin keluar dari kemiskinan ini memang harus dilakukan dari si warga itu sendiri,” ucapnya.

“Karena mengubah nasibnya sendiri dengan hidup hemat saja tidak mau, prihatin saja tidak mau, menabung untuk membawa perubahan derajatnya saja tidak mau, kenapa kita harus memikirkannya, yang lebih membutuhkan masih banyak,” pungkasnya.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Mustafa Kamal

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X