Dari catatan tersebut, kamu bisa melihat pos mana yang paling banyak menyerap penghasilan.
Pengeluaran kecil yang dilakukan berulang kali juga perlu diperhatikan. Namun, jangan langsung menganggap semua pembelian kecil sebagai penyebab keuangan bermasalah.
Catatan pengeluaran justru membantu membedakan kebutuhan yang tidak bisa ditunda dan pengeluaran yang masih dapat dikurangi.
2. Dahulukan kebutuhan pokok
Setelah mengetahui pola pengeluaran, tentukan prioritas pembayaran. Kebutuhan seperti makanan, tempat tinggal, listrik, kesehatan, dan transportasi untuk bekerja sebaiknya masuk dalam perencanaan utama.
Baca Juga: Dana siap pakai BNPB diduga dikorupsi, adik kepala BNPB jadi salah satu tersangka
Sisihkan dana untuk kebutuhan tersebut sebelum mengalokasikan uang ke belanja tambahan.
Jika memiliki tanggungan keluarga, masukkan pula kebutuhan mereka ke dalam anggaran agar tidak mengganggu pengeluaran penting lainnya.
Pembagian anggaran tidak harus mengikuti persentase tertentu secara kaku.
Kondisi setiap orang berbeda, mulai dari besarnya penghasilan hingga biaya tempat tinggal dan jumlah tanggungan.
Baca Juga: Bali terapkan WFH dan PJJ selama 3 hari imbas antrean BBM mengular di SPBU
Karena itu, anggaran yang realistis lebih penting daripada memaksakan rumus pembagian uang yang tidak sesuai kemampuan.
3. Evaluasi Pengeluaran yang Berulang
Langganan aplikasi yang jarang digunakan, biaya layanan, dan kebiasaan membeli sesuatu tanpa perencanaan dapat menjadi bahan evaluasi.
Periksa pengeluaran rutin yang manfaatnya paling kecil, lalu pertimbangkan untuk menghentikan atau menguranginya.