Gerakan ini dirancang sebagai support system bagi para pengurus masjid agar lebih kuat secara manajerial dan terhubung dengan banyak peluang.
“Kami ingin masjid tidak berjalan sendiri-sendiri. KOMPAK hadir untuk memperkuat pengurus, membuka akses bantuan, dan memastikan masjid benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sekitar,” jelas Juli.
Menurutnya, banyak masjid memiliki potensi besar, namun terkendala keterbatasan sumber daya, jejaring, dan kapasitas pengelolaan. Di titik inilah KOMPAK mengambil peran strategis.
Fokus program: Dari tata kelola hingga anak muda
Sebagai langkah konkret, KOMPAK menyiapkan sejumlah program kerja yang langsung menyentuh kebutuhan pengurus masjid, di antaranya pendampingan manajemen dan tata kelola keuangan masjid yang profesional dan akuntabel.
Selain itu, KOMPAK juga menggulirkan kelas dan pelatihan rutin melalui Insight Series yang membahas kepemudaan, digitalisasi masjid, hingga pengembangan program sosial.
Akses percepatan bantuan pemerintah, CSR perusahaan, serta lembaga filantropi juga menjadi bagian penting dari agenda gerakan ini.
Baca Juga: Viral perjuangan guru di Padang Pariaman kunjungi rumah siswa, lewati sawah hingga naik bukit
Program lainnya mencakup Safari Dakwah, studi tiru antarmasjid untuk berbagi praktik baik, serta penguatan jejaring kolaborasi DKM se-Kabupaten Subang.
Menuju masjid yang hidup dan berdampak
Dalam seminar tersebut, peserta juga mendapatkan inspirasi dari praktik baik seperti Masjid Sejuta Pemuda dan Masjid Makan-Makan.
Materi ini dihadirkan sebagai referensi, sementara implementasi di Subang tetap disesuaikan dengan kebutuhan lokal melalui kerangka KOMPAK.
Antusiasme peserta terlihat tinggi. Mayoritas menyatakan kesiapan bergabung dalam jejaring KOMPAK dan bergerak bersama membangun masjid yang lebih hidup, inklusif, dan bermanfaat.
Baca Juga: Tanah bergerak di Jatinegara Tegal, warga was-was di malam hari hingga dijanjikan relokasi