Baca Juga: Pakai rompi oranye, Noel acungkan jempol dan kepalkan tangan di konferensi pers KPK
Melawan stigma 'santri tak kritis'
Aghitsna menyesalkan stigma yang digiring sebagian kalangan di media sosial, seolah pesantren menjadikan santri pasif dan kolot.
“Itu apriori yang keliru. Di pesantren, kritik ilmiah tetap ada, bahkan dibiasakan, tapi selalu dalam bingkai adab,” tegasnya.
Ia mengutip pandangan ulama kontemporer Muhammad Awwamah yang menekankan keseimbangan antara kritik dan adab.
“Kalau kritik lebih dominan tanpa adab, murid bisa tidak sopan. Sebaliknya, adab tanpa kritik membuat ilmu tidak teruji,” tambahnya.
Baca Juga: Viral foto Wamenaker Immanuel Ebenezer dengan alat medis, KPK pastikan kondisi sehat
Tradisi kritis yang hidup
Tradisi bahtsul masail di pesantren menjadi bukti nyata. Santri bisa berdebat panas dengan kiai dalam forum ilmiah, namun tetap mencium tangan sang guru dengan hormat.
“Adab dan kritis itu seimbang, tidak bisa dipisahkan,” kata Aghitsna.
Ia menegaskan, pesantren yang menjaga tradisi keilmuan Islam justru melahirkan generasi yang beradab sekaligus kritis.
“Dengan sibuk pada kegiatan pesantren, santri tak sempat larut dalam tren imoral. Justru mereka bisa mengkritisi tren-tren itu dengan dasar ilmu,” pungkasnya.***