khazanah

Sejarah perayaan Imlek yang ternyata hanya ada di Indonesia karena terjadinya diskriminasi saat era orde baru

Rabu, 29 Januari 2025 | 00:34 WIB
Perayaan Imlek di Kota Solo, Jawa Tengah pada Minggu, 26 Januari 2025 (Instagram.com/tienkoksie)

Tradisi membakar bambu untuk menghasilkan suara keras menjadi salah satu kegiatan khas pada masa itu. 

Baca Juga: Diduga Direkrut jadi Dirtek Timnas Indonesia, Shin Tae-yong beri jawaban sebelum pulang ke Korea Selatan

Ritual Imlek pun mulai berkembang, termasuk membersihkan rumah, makan bersama, hingga acara hiburan, terutama saat memasuki masa Dinasti Wei dan Jin (220–420 M).

Perayaan Imlek semakin meriah pada masa Dinasti Tang hingga Qing, didukung oleh kemakmuran ekonomi. 

Selain ritual keagamaan, masyarakat mulai menggelar perayaan seperti pameran lampion, pertunjukan seni, hingga kunjungan ke sanak saudara. 

Tradisi ini terus berlanjut hingga era modern dengan penyesuaian sesuai zaman. 

Baca Juga: Mengaku jadi suami siri, pelaku pemutilasi Uswatun Khasanah buang potongan jenazah di 3 kota berbeda di Jawa Timur

Saat ini, Imlek identik dengan dekorasi khas berwarna merah, seperti lentera dan amplop merah (angpao), serta kegiatan sosial yang lebih beragam.

Perayaan Imlek di Indonesia

Menariknya, istilah "Imlek" hanya digunakan di Indonesia.

Di negara asalnya, China, perayaan ini dikenal sebagai Sin Cia atau Tahun Baru Lunar. 

Nama "Imlek" berasal dari dialek Hokkien, yang berarti "kalender bulan" (im berarti bulan, lek berarti penanggalan). 

Baca Juga: Kepulangan STY bak drama yang belum selesai? begini kata Bung Valen yang menanti manuver PSSI bersama pelatih anyar Garuda Patrick Kluivert

Istilah ini muncul akibat larangan penggunaan istilah Mandarin di Indonesia selama masa Orde Baru.

Pada era pemerintahan Presiden Soeharto, perayaan budaya Tionghoa, termasuk Imlek, dilarang melalui Instruksi Presiden No. 14 Tahun 1967. 

Halaman:

Tags

Terkini