Baca Juga: Prabowo dan Presiden Mesir kompak suarakan gencatan senjata di Palestina
Buku lainnya yang dianggap penting untuk diulas adalah karya jurnalis masyhur fotografi yang termasuk dalam 500 tokoh muslim berpengaruh di dunia oleh Royal Islamic Institute in Jordan, yakni Shafiq Morton, berjudul ‘From the Spice Islands to Cape Town: The Life and Times of Tuan Guru’ yang diterbitkan National Awqaf Foundation of South Africa tahun 2018 setebal 170 halaman.
“Selain melakukan studi pustaka, hal penting juga adalah perlunya membuat film dokumenter tentang Tuan Guru,” tambah Husain Ali.
Selanjutnya, menurut Rektor Universitas Nuku Idris Sudin perlunya ada komunikasi lebih lanjut dengan Pemerintah Kota Tidore Kepulauan sebagai pihak yang akan mengusulkan Tuan Guru sebagai Pahlawan Nasional, sementara itu studi-studi dapat dilanjutkan dari sekarang.
“Diskusi ini perlu dilanjutkan dengan jalinan komunikasi yang intens dengan Pemerintah Kota Tidore, Kesultanan Tidore dan Keluarga Tuan Guru di Tidore,” lanjut Idris Sudin yang juga diperkuat oleh Zulkifli Ohorella terkait perlunya komunikasi efektif dengan pemerintah.
“Political will Pemkot Tidore sangat dibutuhkan,” tambah Masyhuri Chalid.
“Kita berharap dokumen studi terkait Tuan Guru dapat kita buat sebaik mungkin dengan berbagai argumen kelayakan sesuai dengan persyaratan Pahlawan Nasional,” lanjut Abdul Kadir Ali.
Ia juga berharap agar rencana ini dapat berkontribusi positif tidak hanya bagi Tidore tapi juga dalam diplomasi Indonesia yang sejak lama telah memberikan pengaruh positif bagi bangsa lainnya, khususnya di Afrika Selatan.
Menurut sejarah, Tuan Guru Imam Abdullah Qadhi Abdussalam membangun masjid pertama di Afrika Selatan pada tahun 1794.
Masjid yang diberi nama Masjid Auwal tersebut hingga kini masih berdiri kokoh di Dorp Street di area Bo-Kaap, salah satu konsentrasi komunitas Cape Malay di Cape Town.
Tuan Guru lahir di Tidore pada tahun 1712, dan meninggal di Cape Town pada tahun 1807 pada usia 95 tahun. Tuan Guru tiba di Cape Town dengan kapal VOC, Zeepard, pada tahun 1780 ketika berusia 68 tahun.
Belanda mengirimnya ke Cape Town untuk menghalangi interaksinya dengan Inggris, musuh bebuyutan Belanda pada era kolonialisme.
Forum diskusi tersebut akhirnya menyepakati perlu ada timeline agar rencana pengusulan tersebut berjalan dengan lancar.