Menapak jejak dakwah Islam di Jembrana: Wisata religi ke makam buyut lebai dan Ustaz Ali Bafaqih

photo author
Mustafa Kamal, Genmilenial
- Rabu, 16 Juli 2025 | 15:34 WIB
Makam Buyut Lebai di Loloan Timur, Jembrana, Bali (Dok. Pemprov Bali)
Makam Buyut Lebai di Loloan Timur, Jembrana, Bali (Dok. Pemprov Bali)

Di sisi barat Kampung Loloan, berdiri Pondok Pesantren Syamsul Huda, yang juga menjadi lokasi peristirahatan terakhir Habib Ali bin Umar bin Abu Bakar Bafaqih.

Ia lahir di Banyuwangi pada 1 Januari 1882 dan wafat di usia 117 tahun pada 22 Februari 1999.

Baca Juga: Istana soal Hari Kebudayaan Nasional 17 Oktober: Tak ada unsur cocoklogi dengan ultah Prabowo

Dikenal luas sebagai sosok kharismatik dan penyebar Islam yang tak kenal lelah, Habib Ali mendirikan Pesantren Syamsul Huda pada 1935.

Namanya pun dikenang sebagai salah satu 'Wali Pitu' atau tujuh wali yang diyakini memiliki derajat spiritual tinggi di Bali.

Selain menjadi tempat ziarah, pesantren yang ia dirikan tetap aktif hingga hari ini, menjadi pusat pendidikan dan syiar Islam di wilayah Bali Barat.

Ziarah ke dua tokoh ini tak hanya menyentuh sisi spiritual, tapi juga membuka ruang kontemplasi akan perjuangan dakwah yang berakar kuat di tanah yang multikultural.

Baca Juga: Trump puji Prabowo usai kesepakatan penurunan tarif dagang RI-AS: Cerdas dan sangat populer

Tak ada tiket masuk resmi, cukup dengan donasi sukarela. Di sekitar area, rumah-rumah panggung dan jajanan lokal menyambut para tamu, menghadirkan pengalaman religi yang menyatu dengan budaya lokal.

Kampung Loloan, dengan wajah Islam yang damai dan membumi, menjadi bukti bahwa sejarah dan harmoni keberagaman dapat berjalan seiring.

Di tengah modernitas Bali, Jembrana mengajarkan bahwa warisan spiritual tetap relevan, menyejukkan, dan penuh makna.***

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Mustafa Kamal

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X