Ia menduga terdapat upaya menekan MSCI agar mengubah penilaian terhadap pasar modal Indonesia.
Baca Juga: 70 Titik api masih membara di Gunung Arjuno-Welirang, kebakaran meluas hingga Kota Batu
Secara khusus, Lutfi menyebut nama Rachel Koh dari GIC dan mengklaim bahwa yang bersangkutan menekan MSCI terkait penilaian terhadap Indonesia.
Namun, pernyataan tersebut merupakan klaim Lutfi dalam video yang diunggahnya. Bahan yang tersedia belum memuat tanggapan dari GIC, Temasek, maupun MSCI mengenai tuduhan tersebut.
Lutfi klaim dana asing keluar hingga 80 persen
Selain menyoroti ancaman perubahan status pasar modal, Lutfi mengklaim dana institusi asing telah keluar sekitar 80 persen dari pasar Indonesia.
Menurutnya, keluarnya dana asing tersebut tidak langsung membuat harga saham jatuh seperti yang ia perkirakan mungkin diharapkan oleh pihak yang telah melepas asetnya.
Baca Juga: Viral ajudan Gubernur Kaltim senggol mahasiswa GMNI, Polda turun tangan
Lutfi menduga ancaman penurunan status pasar modal dapat memperburuk sentimen investor. Kondisi tersebut, menurut narasinya, berpotensi memicu kepanikan dan menekan harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Ia juga menilai tekanan terhadap sentimen pasar dapat membuka peluang bagi investor yang sebelumnya melepas aset untuk kembali membeli saham Indonesia dengan harga lebih rendah.
“Bikin kepanikan massal supaya indeks saham kita rontok. Lalu mereka borong kembali aset-aset terbaik Indonesia di harga diskon,” kata Lutfi.
Pernyataan tersebut menggambarkan kekhawatiran Lutfi terhadap kemungkinan tekanan sentimen yang memengaruhi keputusan investor.
Baca Juga: SUV bekas vs mobil listrik baru Rp250 jutaan, mana lebih menguntungkan?
Meski demikian, dugaan mengenai tujuan pihak asing dan klaim keluarnya dana institusi asing tersebut belum dapat dipastikan hanya berdasarkan pernyataannya.
Singapura dan MSCI jadi sorotan dalam pernyataan Lutfi