GENMILENIAL.ID – Pasar saham Indonesia menghadapi potensi perubahan klasifikasi global setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengusulkan pemindahan status Indonesia dari Emerging Market atau pasar berkembang menjadi Standalone Market atau pasar mandiri.
Jika usulan tersebut diterapkan, Indonesia berpotensi masuk kelompok yang sama dengan Argentina, Nigeria, Palestina, hingga Zimbabwe.
Perubahan ini menjadi perhatian karena klasifikasi MSCI digunakan sebagai acuan oleh berbagai pengelola dana investasi global.
Baca Juga: Guru non-ASN bisa bernapas lega, TPG mulai masuk rekening dan ditargetkan rampung pekan depan
Namun, Indonesia belum resmi berpindah kategori. MSCI masih membuka konsultasi dengan pelaku pasar sebelum mengambil keputusan akhir yang dijadwalkan paling lambat 30 Juni 2027.
MSCI usulkan perubahan kategori pasar Indonesia
Usulan reklasifikasi tersebut tercantum dalam rilis MSCI tertanggal 15 Oktober 2026. Konsultasi dilakukan untuk meminta masukan mengenai rencana perubahan status pasar saham Indonesia.
Dalam dokumen MSCI Global Investable Market Indexes Methodology edisi Mei 2026, terdapat 13 negara atau pasar yang tercantum dalam kelompok Standalone Market.
Baca Juga: TPG guru honorer mulai cair, Rp2 juta per bulan ditargetkan segera masuk rekening
Daftar tersebut meliputi Argentina, Bosnia dan Herzegovina, Botswana, Bulgaria, Jamaika, Lebanon, Malta, Nigeria, Palestina, Panama, Trinidad dan Tobago, Ukraina, serta Zimbabwe.
Jika usulan MSCI diberlakukan, Indonesia akan masuk dalam kelompok klasifikasi tersebut. Meski demikian, kesamaan kategori tidak berarti negara-negara di dalamnya memiliki kondisi ekonomi, ukuran pasar, maupun persoalan investasi yang identik.
Klasifikasi tersebut merupakan bagian dari metodologi MSCI dalam mengelompokkan pasar saham untuk penyusunan indeks investasi global.
Argentina dan Nigeria pernah berpindah kategori
Perubahan status pasar bukan hal baru dalam metodologi MSCI. Argentina, misalnya, direklasifikasi dari Emerging Market menjadi Standalone Market pada November 2021.
Artikel Terkait
Fenomena September Effect: Pasar saham sering melemah, tapi lebih mirip mitos statistik
Mahfud MD soroti dominasi pihak China di proyek Whoosh: Saham Indonesia 60 persen, tapi jabatan strategis dikuasai ekspatriat
Ega Anjani dorong UMKM Subang tembus pasar internasional, fokus kualitas hingga branding
Di balik peluang saham data center, Kiwoom ingatkan valuasi dan pendanaan
Turun habis, saham GOTO tinggal Rp28 benarkah bisa ke Rp1?
Tiga saham pilihan Bareksa untuk perdagangan jangka pendek, simak target harganya
Investor asing jual saham Rp84,99 triliun, apa yang membuat mereka ragu?