Sementara berdasarkan laporan keuangan Bank BJB, nilai kredit bermasalah konsolidasian pada Maret 2026 mencapai sekitar Rp3,81 triliun. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan sekitar Rp3,59 triliun pada akhir Desember 2025.
Jika dilihat berdasarkan sektor ekonomi, kredit bermasalah terbesar pada Maret 2026 berada pada kategori lain-lain dengan nilai sekitar Rp1,32 triliun.
Berikutnya, kredit bermasalah pada sektor perdagangan mencapai Rp1,11 triliun. Sektor industri tercatat Rp651,53 miliar, sedangkan sektor konstruksi mencapai Rp419,74 miliar.
Adapun kredit bermasalah sektor pertanian tercatat Rp253,85 miliar. Sementara pada sektor jasa dunia usaha, nilainya berada di angka Rp39,69 miliar.
Data tersebut menunjukkan tekanan kualitas aset Bank BJB tidak hanya berasal dari satu sektor. Namun, konsentrasi terbesar berada pada kategori lain-lain, perdagangan, industri dan konstruksi.
Kredit dalam perhatian khusus ikut naik
Risiko kredit Bank BJB juga terlihat dari peningkatan kredit yang belum masuk kategori bermasalah, tetapi sudah menunjukkan tanda-tanda risiko.
PEFINDO mencatat rasio special mention loans atau kredit dalam perhatian khusus mencapai 4,3 persen pada Juni 2026.
Rasio tersebut meningkat dari 3,8 persen pada akhir 2025 dan 2,7 persen pada akhir 2024.
Baca Juga: Kebakaran meluas hingga area kafe, kawasan wisata Bromo ditutup total
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kredit dalam perhatian khusus berpotensi menjadi kredit bermasalah apabila kemampuan debitur dalam memenuhi kewajibannya terus melemah.
Dengan meningkatnya NPL sekaligus kredit dalam perhatian khusus, kualitas aset menjadi salah satu aspek penting yang perlu diperhatikan dalam melihat kondisi Bank BJB ke depan.
Pencadangan turun saat risiko kredit meningkat
Persoalan lainnya muncul pada cakupan pencadangan terhadap NPL. PEFINDO mencatat rasio tersebut turun dari 91,6 persen pada akhir 2025 menjadi 85,8 persen pada Juni 2026.