“Krakatau Steel itu contoh nyata proyek gagal yang mahal. Blast furnace senilai Rp30 triliun salah desain, tidak berfungsi, dan sekarang menimbulkan utang besar,” kata Firnando.
Ia menegaskan, DPR mendorong setiap BUMN wajib memiliki studi kelayakan dan audit proyek yang transparan.
“BUMN harus kurus tapi kuat, bukan gemuk tapi lamban. Jangan semua proyek dibiarkan atas nama program strategis tanpa akuntabilitas,” tegasnya.
Danantara: Arah baru investasi negara
Mengenai pembentukan Danantara, lembaga investasi baru milik BUMN, Firnando menyatakan dukungannya namun dengan catatan tegas.
“Saya mendukung, tapi harus profesional dan transparan. Jangan sampai jadi birokrasi baru atau kantong politik,” katanya.
Baca Juga: Menkeu Purbaya tegaskan tak setuju amnesti pajak rutin, dorong reformasi fiskal berkelanjutan
Firnando menegaskan bahwa DPR akan mengawasi arah investasi Danantara agar sejalan dengan kepentingan nasional, bukan kepentingan kelompok tertentu.
Banjir impor dan proteksi industri lokal
Firnando juga menyoroti derasnya impor murah dari Tiongkok dan Thailand yang mengancam industri nasional.
“Baja, semen, tekstil, semuanya kena. Kalau impor terus dibiarkan dengan bea masuk nol persen, industri kita bisa habis,” katanya.
Menurutnya, pemerintah harus menerapkan kebijakan smart protection (proteksi pintar) demi menjaga sektor strategis.
Baca Juga: Duduk perkara pencopotan sekretaris Lurah Petojo Selatan yang viral karena gaya hidup mewah
“Saya bukan anti pasar bebas, tapi negara harus melindungi industrinya. Kalau industri dasar mati, kedaulatan ekonomi juga mati,” tegasnya.