Harga mobil listrik berpeluang lebih murah, BYD dikabarkan perluas ekspansi hingga bangun pabrik baterai sendiri

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Senin, 28 September 2026 | 15:54 WIB
Ilustrasi - menyoroti keberadaan pabrik baterai kendaraan listrik di RI yang berpeluang menjadikan mobil listrik lebih murah dari harga pasar saat ini (Unsplash.com/@vanyasmythe)
Ilustrasi - menyoroti keberadaan pabrik baterai kendaraan listrik di RI yang berpeluang menjadikan mobil listrik lebih murah dari harga pasar saat ini (Unsplash.com/@vanyasmythe)

Baca Juga: Cara cek bansos September 2026 dengan NIK, warga desil berapa yang bisa ikut?

Namun, harga mobil listrik tidak hanya berkaitan dengan kapasitas produksi baterai.

Teknologi baterai yang digunakan juga terus mengalami pengembangan untuk mendapatkan teknologi yang lebih aman dan terjangkau.

Temuan baru baterai Na-ion

Di tengah perkembangan tersebut, para ilmuwan mengumumkan terobosan teknologi baterai natrium-ion (Na-ion) berbasis solid-state.

Teknologi tersebut disebut berpotensi menjadi alternatif yang lebih aman dan lebih murah dibandingkan baterai lithium-ion (Li-ion) yang saat ini mendominasi pasar.

Baca Juga: Kapolsek Subang ingatkan pelajar soal geng motor, miras hingga knalpot brong

Baterai Li-ion selama ini menjadi teknologi utama yang digunakan pada perangkat elektronik dan kendaraan listrik.

Namun, baterai jenis tersebut memiliki risiko thermal runaway, yakni peningkatan panas ekstrem akibat korsleting atau kerusakan fisik yang dapat memicu kebakaran atau ledakan.

Risiko tersebut juga berkaitan dengan penggunaan elektrolit cair organik yang mudah terbakar.

Sementara itu, baterai Na-ion dianggap lebih aman karena menggunakan material katoda yang lebih stabil dan memiliki potensi elektrokimia lebih rendah dibandingkan lithium.

Baca Juga: Dikomentari ‘evakuasi sibuk bikin konten’, penyelam BSG ungkap alasan buat video saat pencarian korban kapal Virgo Transport 8

Meski begitu, teknologi Na-ion masih memiliki tantangan. Kepadatan energinya lebih rendah dan cenderung mengalami degradasi lebih cepat sehingga masa pakainya lebih singkat.

Profesor dari Western University, Yang Zhao, mengatakan penelitian terbaru tersebut dikembangkan untuk menjawab sebagian persoalan pada baterai EV.

Penelitian itu memanfaatkan fasilitas Canadian Light Source untuk menganalisis pergerakan ion dalam elektrolit solid yang dikembangkan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kecilkan dapur MBG, perluas kesempatan usaha untuk rakyat

Minggu, 13 September 2026 | 21:18 WIB
X