Penurunan tersebut terjadi setelah kasus hukum yang berkaitan dengan pengurusan HGB mencuat dan menjadi perhatian pasar.
Pasar cermati risiko hukum dan tata kelola
Pergerakan saham SMRA juga tidak terlepas dari perhatian terhadap risiko hukum dan tata kelola perusahaan setelah kasus tersebut mencuat.
Risiko yang dicermati tidak hanya berkaitan dengan individu yang berada di jajaran direksi.
Baca Juga: Nusron dan Raja Juli disorot, Agus Sulistriyono minta pemerintahan Prabowo jaga kepercayaan publik
Perkembangan perkara juga menjadi perhatian karena dugaan suap yang sedang ditangani berkaitan dengan pengurusan HGB yang berhubungan dengan aktivitas perusahaan properti.
Kondisi tersebut membuat perkembangan kasus hukum menjadi salah satu informasi yang relevan bagi pasar dalam mencermati saham SMRA.
Di sisi lain, pergerakan saham pada perdagangan 17 September menunjukkan harga mulai bergerak terbatas setelah sebelumnya mengalami penurunan tajam.
Saham SMRA memang sempat menguat hingga Rp294 dan kemudian berada di level Rp290.
Baca Juga: Maulid di Subang, Ega Anjani tekankan pentingnya meneladani akhlak Rasulullah
Namun, pergerakan tersebut masih berlangsung di tengah sinyal teknikal harian yang menurut Investing.com berada pada kategori 'Sangat Jual'.
Perubahan harga selanjutnya tetap akan dipengaruhi oleh dinamika perdagangan saham, volume transaksi, indikator teknikal, serta perkembangan informasi mengenai perusahaan dan kasus HGB yang menjadi perhatian.***
Artikel Terkait
Fenomena September Effect: Pasar saham sering melemah, tapi lebih mirip mitos statistik
Mahfud MD soroti dominasi pihak China di proyek Whoosh: Saham Indonesia 60 persen, tapi jabatan strategis dikuasai ekspatriat
Boy Thohir beli 3,1 juta lembar saham Trimegah Sekuritas, tegaskan kepercayaan pada kondisi pasar modal RI
Saham BCA dinilai ‘murah’, Dasco: Selama sesuai mekanisme pasar silakan dibeli
Saham MGLV melonjak lagi 10 persen, kenaikan sepanjang 2026 tembus 500 persen
Saham MGLV melesat lebih dari 500 persen, pasar soroti rights issue Rp2,4 triliun
Rating Bank BJB turun, pemegang saham daerah perlu perketat pengawasan kredit