Asuransi permanen dengan nilai tunai sering terlihat menarik, namun pakar menilai asuransi berjangka lebih sesuai bagi banyak keluarga karena murah dan efektif.
4. Mengabaikan detail polis
Premi dan pertanggungan bukan satu-satunya hal penting.
Baca Juga: Ikuti instruksi presiden, Kementerian PU gerak cepat data dan rehabilitasi fasilitas umum rusak
Detail syarat, pengecualian, dan ketentuan polis perlu dipahami agar tidak menyesal di kemudian hari.
5. Tidak pernah meninjau ulang polis
Kondisi hidup berubah seiring waktu. Polis perlu ditinjau kembali setiap lima tahun atau ketika ada peristiwa besar seperti menikah atau punya anak.
Menurut para pakar, bersikap proaktif dalam memilih serta mengevaluasi polis merupakan langkah penting untuk memastikan perlindungan tetap relevan.
Dengan begitu, asuransi jiwa benar-benar menjadi pelindung finansial, bukan sebaliknya.***
Artikel Terkait
Kemenag ungkap penanganan jemaah haji Indonesia yang wafat di Arab Saudi, pastikan badal haji dan asuransi
Kasus Covid-19 naik, IFG ajak warga perkuat perlindungan diri lewat asuransi kesehatan
IFG dorong transformasi asuransi nasional hadapi tekanan global lewat dialog strategis
Laba asuransi jiwa melesat 132 persen, IFG dorong transformasi menuju industri keuangan tangguh
IFG perkuat peran strategis di industri asuransi lewat Indonesia Professional Insurance Forum 2025
Berjangka vs seumur hidup, mana asuransi jiwa yang tepat buat kamu?
Dirut GoTo Patrick Walujo melayat: Janjikan dukungan finansial dan asuransi untuk keluarga Affan Kurniawan