Nissan sebelumnya sempat menjajaki aliansi dengan Honda untuk membentuk produsen mobil terbesar ketiga dunia, namun rencana itu gagal pada Februari 2025.
Baca Juga: Mendikdasmen Abdul Mu’ti ajukan tambahan Rp14,4 triliun: Untuk PIP hingga kesejahteraan guru honorer
Pada Mei 2025, Nissan juga mengumumkan rencana restrukturisasi besar, memangkas 11.000 karyawan dan menutup 7 pabrik di berbagai negara demi menekan biaya produksi.
Meski AS menurunkan tarif impor mobil dari 25 persen menjadi 15 persen, langkah itu belum mampu mendongkrak kinerja saham Nissan.
Kini, setelah Mercedes-Benz melepas kepemilikan, investor semakin berhati-hati menaruh modal di salah satu pabrikan otomotif terbesar Jepang ini.***
Artikel Terkait
Nasib saham Rp267 miliar milik Raffi Ahmad di STY Foundation usai Shin Tae Yong dipecat, benarkah akan melayang?
Kasus ‘papa minta saham’ kembali mencuat usai anak Riza Chalid jadi salah satu dalang korupsi Rp193,7 triliun di Pertamina
Soroti gejolak bursa saham, Menko Airlangga Hartarto: IHSG masih negatif, tapi sudah dalam tren positif
Persib menuju klub modern: Maruarar Sirait suntik investasi dan siapkan bursa saham
OJK Soroti dana kelola BPI Danantara sebagai pemegang saham bank BUMN
Saham Boeing langsung anjlok usai insiden jatuhnya pesawat Air India di Ahmedabad
Reksa dana vs saham: Pilihan investasi tepat untuk pemula, mana yang lebih cocok?