humaniora

Lahir di Istana Merdeka, ini warisan Guruh Sukarnoputra sang penerus budaya seni dari Bung Karno

Sabtu, 26 September 2026 | 16:41 WIB
Mengenang warisan budaya seni dari putra Presiden RI ke-1 Soekarno, Guruh Sukarnoputra yang wafat pada Sabtu, 26 September 2026 (Instagram.com/@infipop.id)

Jiwa seni tersebut kemudian tumbuh kuat dalam diri Guruh. Berdasarkan catatan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Guruh lahir di Istana Merdeka pada 13 Januari 1953.

Baca Juga: Bagaimana pengelolaan minyak jelantah MBG? Viral chef SPPG Surabaya ditangkap polisi usai curi 8 jeriken

Guruh tumbuh dalam lingkungan yang sarat dengan nilai estetika dan kebudayaan. Didikan Bung Karno yang menekankan pentingnya kepribadian dalam kebudayaan melalui Tri Sakti turut membentuk kecintaannya terhadap seni.

Bakat Guruh bahkan sudah terlihat sejak balita. Ia menguasai berbagai tarian daerah, mulai dari Jawa, Sunda, Bali hingga Minang.

Guruh Gipsy jadi tonggak musik Indonesia

Warisan seni Guruh Sukarnoputra juga terlihat dari karya musiknya. Salah satu yang paling dikenal adalah Guruh Gipsy yang lahir pada 1976.

Sekembalinya dari Belanda, Guruh bersama Keenan Nasution, Chrisye, Abadi Soesman, Roni Harahap dan Oding Nasution menciptakan karya eksperimental yang memadukan gamelan Bali dengan progressive rock.

Baca Juga: Tim penyelam BSG ini ungkap alasan penggunaan palu untuk pecah kaca kapal Virgo Transport 8

Album tersebut dicetak secara terbatas sebanyak 5.000 keping kaset. Karya itu menjadi salah satu bentuk upaya Guruh dalam menemukan identitas nasional melalui musik.

Buku Musisiku (2007) mencatat Guruh Gipsy sebagai salah satu tonggak sejarah musik pop Indonesia. Karya tersebut disebut sebagai bentuk keberanian artistik yang melampaui komersialisasi pasar sekaligus memuat kritik sosial.

Karya Guruh juga hadir melalui lagu-lagu yang kemudian dikenal luas. Renjana menjadi juara Festival Nasional Cipta Lagu Populer Indonesia pada 1976.

Selain itu, terdapat sejumlah karya yang kemudian dikenal sebagai lagu legendaris, seperti Galih dan Ratna, Gita Cinta, Lenggang Puspita, serta Kembalikan Bali Padaku yang dirilis pada 1987.

Baca Juga: Ramai unggahan situasi Kalimantan yang masih dikepung kabut asap dan ‘aktivitas normal’, ada apa?

Swara Maharddhika dan seni pertunjukan

Guruh Sukarnoputra tidak hanya berkarya melalui musik. Ia juga membangun ruang bagi seni pertunjukan melalui Swara Maharddhika.

Halaman:

Tags

Terkini

CERPEN: Surat cinta untuk adinda

Rabu, 19 Agustus 2026 | 12:39 WIB