Dari pemberian sederhana tumbuh karakter mulia
Bagi Ajup, sayur dan buah yang dibawa anak-anak tersebut memiliki makna lebih besar daripada sekadar hasil kebun.
Pemberian itu menjadi simbol rasa syukur sekaligus menunjukkan adanya karakter yang sedang tumbuh.
Baca Juga: Protes harga telur anjlok, rombongan peternak DIY sebar 1.600 ayam afkir dengan sukarela ke warga
"Ada kasih, kerja keras, dan karakter yang sedang bertumbuh. Mereka mengajarkan bahwa memberi tidak harus menunggu berkelimpahan," sebut Ajup.
"Bahkan dari yang sederhana, kita tetap bisa menjadi berkat," tambahnya.
Pesan tersebut menjadi bagian penting dari kisah yang ia bagikan. Dalam keterbatasan materi, anak-anak justru memperlihatkan bahwa seseorang tetap dapat memberikan sesuatu kepada orang lain.
Ajup berharap masyarakat tidak melihat Papua semata-mata dari sisi kekurangan. Menurutnya, Papua memiliki kekayaan alam sekaligus masyarakat yang mempunyai nilai-nilai sosial yang kuat.
"Dan dipenuhi orang-orang yang memiliki hati untuk berbagi," imbuhnya.
"Karena ada berkat di balik menjadi berkat bagi sesama, dan ada masa depan yang baik ketika manusia merawat alam yang telah Tuhan percayakan," tandas Ajup.
Kisah para siswa yang membawa hasil ladang untuk guru tersebut pada akhirnya bukan hanya tentang sayur dan buah.
Di balik pemberian sederhana itu terdapat pesan mengenai rasa syukur, kepedulian, penghargaan kepada guru, serta pentingnya menjaga alam sebagai sumber kehidupan.***